sepi


sedikit berbagi, begitu berarti…

sepi

illustrasi (sodahead.com)

Dingin..
Yang terbungkus sepi
Mencabik hati yang suci
Tanpa peduli rasa akan mati

Ingin..
Yang terhempas pergi
Coba kembali tuk berdiri
Tanpa peduli semua kan memaki

Isyarat hati telah terpaut
Walau diselimuti rasa takut
Bernegosiasi dengan sang maut
Rasa ini tidak akan menciut

Tenangkan diri dengan impian
Sadarkan dengan perjuangan
Jalani sisanya dengan harapan
Dan bertawakalah pada-Nya

apa kabar suara hati


sedikit berbagi, begitu berarti…

apa kabar suara hati

illustrasi (weheartit.com)

Dihari yang serba duabelas dan istimewa (kata sebagian orang) saia awali blog ‘terlantar’ ini dengan sebuah lagu yang mudah-mudahan dapat menginspirasi semuanya, alangkah baiknya kita menyanyi dan menari bersama segenap meresapi dan merenungi apa yang tersirat dari lagu “Suara Hati oleh Iwan Fals”.  Saia ambil lagunya dari Opedinet, diikuti lirik yang saia comot dari kapanlagi.com.

Tanpa basa-basi lagi, pasang speaker atau headset/earphone kawan-kawan semua lalu setel volumenya dengan sedikit lebih keras, sehingga mood sore hari ini dapat naik kembali. Selamat mendengarkan (untuk cemilannya dapat dibeli ditoko langganannya masing-masing). #kabuuuur

Suara Hati – Iwan Fals

Apa kabar suara hati
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati
Tanpa kau sepi rasanya hari

Kabar buruk apa kabar baik
Yang kau bawa mudah-mudahan baik
Dengar-dengar dunia lapar
Lapar sesuatu yang benar

(*)
Suara hati kenapa pergi
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi
Suara hati jangan pergi lagi

Kau dengarkan orang-orang yang menangis
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakan sakitnya orang-orang yang tertindas
Oleh derap sepatu pembangunan

Kau lihatlah pembantaian
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan
Lalu apa yang akan kau suarakan
Kembali ke: (*)

(**)
Apa kabar suara hati
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati
Tanpa kau sepi rasanya hari
Kembali ke: (**)

stroberi dan semangka


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (fruitsinfo.com)

Sehabis dzuhur di bawah pohon randu

“kaa…aku cantik tidak?” tanya stroberi pada semangka.

“hmm..kamu mau aku jujur atau tidak?” terdengar sedikit ketus dari bibir semangka.

“aku mau kamu jujur ka…!” sergah stroberi.

“ohh…kamu itu jelek tahu..!!” tegas semangka.

Stroberi terlihat sedikit kikuk dan kecewa dengan pernyataaan orang yang ia sayangi, sembari menangis ia berlari menjauhi semangka seraya berteriak: “Kamuuu jahaaat kaa…!!”.

Stroberi pun pergi bersama bayangannya, entah dia akan kembali atau tidak. “Dasar anak keciil…”lirih semangka dalam hati. Semangka pun meneruskan kembali kerjaannya sebagai pelukis amatiran.

**

3 bulan yang lalu di desa lontara

Dengan badannya yang tambun, sepertinya tidak ada pekerjaan yang cocok dengan semangka. Namun tidak sedikitpun ia berkeluh kesah terhadap hidupnya, karena semenjak kecil ia sudah menjadi yatim piatu. Ia terbiasa dengan kehidupan yang keras.

Continue reading

yogja kelabu


sedikit berbagi, begitu berarti…

Yogja, 19 Desember 2011

“Nak…tidak usah kau pikirkan yang sudah pergi” sahut ibuku. Seakan beliau dapat membaca hati anaknya yang kini tengah terombang-ambing akibat kejadian seminggu yang lalu.

“Semuanya sudah diatur Gusti  Alloh, tidak ada yang dapat menghindar dari kehendak-Nya. Insyaalloh ada hikmah dibalik kejadian kemarin.” Ibuku sembari memeluk anaknya dengan hangat, lalu tidak terasa berderai kembali air mata ini. Air mata penuh kehilangan.

**

Solo, 11 Desember 2011

illustrasi (turningpointwb.com)

Terlihat beberapa kesibukan pada rombongan besan sehabis shubuh ini, ada yang membawakan berbagai macam kue-kue, panganan dan seserahan lainnya yang merupakan kebutuhan calon pengantin wanita. Bus yang akan berangkat itu sudah penuh dengan keluarga juga kerabat besan, hanya tinggal pemeran utamanya saja masih ada di kamar untuk sekedar berdandan.

“Mbak rini, si agus mana yah…?tanya wanita setengah baya pada anaknya yang kedua.

“ndak tahu bu..mungkin masih dandan dikamar tuuh. Biasalah bu biar ‘ngganteng’ gitu looh..” mbak rini cekikikan menggoda ibu.

“Waduuh..piye to..uwis ganteng ndak usah dandan gitu. Kamu panggil mas agus sana, bilang ini rombongan dah siap berangkat” cerewetnya ibu pada mbak rini.

“Nggih buu…”jawab mbak rini lalu keluar bus menuju rumah.

Continue reading

diam saja


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (esotericquotes.com)

badanku memang bau
bukan berarti jarang mandi
mungkin aku hanya tak peduli
pada manusia yang sok tahu

diam…dan rasakan saja

rambutku memang gondrong
karena aku jarang sikat gigi
jelas aku kurang bersimpati
pada manusia yang suka bohong

diam…dan lihat saja

pakaianku jauh dari rapi
bukan berarti tak disetrika
lebih baik hidup sederhana
ketimbang harta penuh daki

Continue reading

kuburan gila


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (flickr.com)

Malam yang dingin, rupanya tidak menyurutkan niatku untuk sekedar keluar rumah mencari sebongkah berlian. Terdengar gila memang, disaat akal dan logika menjadi ukuran seseorang normal atau tidak. Disaat itu pula rasa kemanusiaan mulai sedikit terkikis. Aku dicap sebagai orang gila yang mengada-ada, aneh dan dijauhi dari kampungku sendiri. Ini semua tidak lepas dari keyakinanku bahwa ditanah kuburan yang terkenal super angker itu merupakan tempat potensial untuk mengais rezeki terutama bertambang, kuburan ini dulunya tempat pembantaian orang-orang tak berdosa waktu zaman penjajahan jepang. Setidak itu stigma yang diselipkan oleh para tetua kampung, dan sialnya semua warga percaya. Mungkin cuma aku sendiri yang sedikit tidak waras bahwa aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu, aku hanya menyakini bahwa semuanya telah diatur oleh sang maha kuasa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam sebulan ada beberapa ‘penyembahan’ kepada para penghuni kuburan tersebut, entah itu berupa makanan ataupun sekedar tumbal ayam jago dan kepala kerbau. Pernah beberapa kali aku mengecam tindakan semacam itu, lebih baik makanan atau ‘sesembahan’ itu diberikan saja pada warga kampung yang memerlukan. Tapi hal itu mentah begitu saja, saat itulah warga mulai tidak menganggap kehadiranku.

Aku memang gila, tapi setidaknya aku masih dapat membedakan mana yang halal dan haram. Disaat semua mencari kerja dengan menghalalkan segala cara, aku memilih untuk ke kuburan tersebut. Daerah kampung kami tidaklah cocok untuk bertani, dikarenakan kondisi tanah yang keras dan batu-batu berkapur. Kebanyakan dari warga lebih memilih untuk berdagang, entah itu dilakukan ditempat ramai yang dikenal dengan istilah pasar ataupun hanya sekedar barter barang-barang kebutuhan hidup.

Continue reading

tidaklah sama


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (writingcareercoach.com)

Merajut asa dalam sembilu
Diantara pahitnya cinta palsu
Mencoba berdiri tanpa ragu
Walau semua sudah berlalu

Hey..tidaklah sama aku dan kamu

Mencoret masa penuh luka
Yang bersembunyi dibalik tawa
Hati ini terpaksa bahagia
Walau jelas begitu nelangsa

Continue reading

sikecil guntur


sedikit berbagi, begitu berati…

Saia akan mencoba kembali cerita pendek yang sangat pendek dan tidak jelas, semoga bermanfaat buat yang tidak membacanya. Nah lho.

illustrasi (billpeet.net)

Dalam dunia per-gajahan, adalah hal yang cukup absurd jikalau gajah terlahir kecil alias tidak besar dan tidak normal seperti biasanya. Namun itulah yang terjadi pada masa sebelum gajah seperti terlihat sekarang ini, berbadan besar dan mempunyai belalai raksasa yang dilengkapi juga oleh ‘gading yang tak retak’. Malam itu, tepatnya malam yang sangat kacau balau akibat hujan super lebat dan angin topan dahsyat melanda sebuah kampung nun jauh ditanah aferika. Gemuruh petir kian menjadi, seperti dunia akan menemui akhirnya.

Disatu gubuk rumbai, terlihat pula kecemasan dan kekhawatiran pada gajah yang hendak melahirkan. Dengan nafas tersengal seakan berlomba dengan kencangnya angin topan yang bertiup dan sesekali berteriak lantang mengalahkan suara petir yang menggelegar. Gajah betina berusaha keras melahirkan sendiri, tanpa ada siapapun disekitarnya. Entah keringat atau air hujan yang membasahi sekujur badan si gajah betina, semua terasa sangat-sangat menyakitkan. Proses melahirkan yang jauh diluar akal gajah.

Siti, nama gajah betina itu. Ia sebatang kara, setelah suami tercinta meninggal karena sakit. Ia tinggal di gubuk peninggalan suaminya, dan tidak ada seorangpun kerabat yang tersisa karena dulu pernah terjadi kebakaran hutan hebat yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Siti pun memutuskan untuk hijrah ke tempat yang lebih layak. Berbadan dua, tidak menyurutkan siti dalam bekerja keras justru ia begitu mencintai si jabang bayi yang ada dalam kandungannya. Waktu demi waktu pun berlalu, dan kini sudah waktunya si jabang bayi keluar dari persembunyiannya.

Continue reading

rindu yang aneh


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (anekaremaja.com)

Diam adalah caraku tuk mengenalmu
Sedikit senyum tuk mengagumimu
Tak ada batas kekecewaan
Tak ada rupa kemarahan
Semuanya mengalun dengan indah

Kutunggu selalu hadirmu
Dalam kerinduan malam yang tak tertahan
Kau datang membawa kehangatan
Saat dinginnya angin malam menyerang

Continue reading

nek surti..seekor semut


sedikit berbagi, begitu berarti…

Ini tulisan kedua setelah saia ‘amnesia’ dikit…cerita pendek yang benar-benar pendek tentang seekor semut yang berjuang untuk mencari nafkah demi menghidupi cucunya tercinta.

illustrasi (themetapicture.com)

Alkisah ada seekor semut, nano nama semutnya. Dia tinggal hanya bersama neneknya, bapaknya pergi entah kemana setelah sang istri tercinta meninggal karena ‘kecelakaan’ akibat terinjak oleh seorang anak kecil. Bapaknya menjadi syok lalu pergi meninggalkan rumah dan tak kunjung kembali. Hanya nenek surti saja yang merawat dan membesarkan nano dengan penuh kasih sayang.

Tapi, sayangnya nano tidak demikian. Kasih sayang yang dengan ikhlas dicurahkan sang nenek tercinta ia balas selalu dengan caci-maki dan sikap tidak menerima hidup yang menimpa keluarganya. Nek surti selalu mengorbankan segalanya demi cucu satu-satunya, ia rela menjadi kuli mencuci di usia yang senja ini, atau kadang ikut sebagai kuli remahan makanan dari sisa-sisa manusia. Uang yang ia terima selalu ia prioritaskan untuk nano, sang cucu tercinta.

Nek surti selalu menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk tabungan cucunya jika suatu saat ia meninggal dunia. Ia menyisihkan tepat didalam tanah, dibelakang gubuk tuanya. Hari demi hari, cacian, makian dari sang cucu tidak menyurutkan pengorbanannya. Mungkin semua akibat dari salah pergaulan yang menjerat hidup nano, tiap malam nano selalu mabuk entah uangnya darimana ia dapatkan. Mabuk di malam hari, tidur sepanjang hari. Kemudian hanya bangun, ketika perutnya meronta kelaparan sembari memarahi neneknya karena hanya menyajikan lauk ala kadarnya.

Continue reading