yogja kelabu


sedikit berbagi, begitu berarti…

Yogja, 19 Desember 2011

“Nak…tidak usah kau pikirkan yang sudah pergi” sahut ibuku. Seakan beliau dapat membaca hati anaknya yang kini tengah terombang-ambing akibat kejadian seminggu yang lalu.

“Semuanya sudah diatur Gusti  Alloh, tidak ada yang dapat menghindar dari kehendak-Nya. Insyaalloh ada hikmah dibalik kejadian kemarin.” Ibuku sembari memeluk anaknya dengan hangat, lalu tidak terasa berderai kembali air mata ini. Air mata penuh kehilangan.

**

Solo, 11 Desember 2011

illustrasi (turningpointwb.com)

Terlihat beberapa kesibukan pada rombongan besan sehabis shubuh ini, ada yang membawakan berbagai macam kue-kue, panganan dan seserahan lainnya yang merupakan kebutuhan calon pengantin wanita. Bus yang akan berangkat itu sudah penuh dengan keluarga juga kerabat besan, hanya tinggal pemeran utamanya saja masih ada di kamar untuk sekedar berdandan.

“Mbak rini, si agus mana yah…?tanya wanita setengah baya pada anaknya yang kedua.

“ndak tahu bu..mungkin masih dandan dikamar tuuh. Biasalah bu biar ‘ngganteng’ gitu looh..” mbak rini cekikikan menggoda ibu.

“Waduuh..piye to..uwis ganteng ndak usah dandan gitu. Kamu panggil mas agus sana, bilang ini rombongan dah siap berangkat” cerewetnya ibu pada mbak rini.

“Nggih buu…”jawab mbak rini lalu keluar bus menuju rumah.

Tidak lama kemudian kedua anaknya keluar dari rumah, terlihat agus yang ganteng sekali dan mbak rini yang tidak kalah cantik. Keduanya tersenyum ke arah ibu yang berada didalam bus.

“Maaf yah bu…aku tadi persiapan dulu sebelum mengucapkan ijab-kabul” sembari tertawa.

“bohong buu’e..tadi waktu rini masuk kamar mas agus sedang asyik dandan tuuh…”tawanya makin keras tatkala dicubit oleh agus.

“sudah-sudah…kalian itu, ayo segera duduk sana!” sahut ibu yang sudah tidak sabaran.

Akhirnya bus rombongan itu pun berangkat. Aku duduk disamping mas Agus, tepatnya di tengah bus. Mas Agus terlihat begitu bahagia sekali, aku pun mengobrol saja dengannya. Mas Agus mulai bercerita bagaimana pertama kali pertemuannya dengan Astri, yang tidak lain adalah calon pengantin wanita. Memang aku tidak begitu dekat dengan mas Agus, karena semenjak kuliah di semarang aku jarang pulang dan jarang bercerita dengan kakakku sendiri. Obrolan itu pun semakin ‘ngalor-ngidul’.

Siapa yang tidak ikut bahagia melihat kakaknya sendiri bahagia, itu pun yang aku rasakan hari ini. Perjalanan yang mungkin memakan waktu sekitar dua jam-an, membuat aku juga sedikit gugup. Entah karena apa aku sendiri tidak tahu. Rombongan kami berangkat sehabis shubuh karena memperkirakan sampai di yogja sekitar jam 8 untuk akad nikah dan ini sudah hampir setengah jalan, alhamdulillah semuanya lancar.

“lagi pa mas..”sambil melirik kakakku yang berada disebelah.

“mau tahu ajah anak kecil..kamu gak lihat aku lagi sms-an” dengan gayanya yang sedikit konyol.

“iyaah mas ganteng, maksudnya sms-an ap tuuh…suit..suit” balasku menggodanya.

“aku sms gini..Astri sabar yah, mas mu bentar lagi sampai kok..jangan gerogi tuh” jelas mas agus memberitahuku.

“Habisnya astri itu seperti gak sabaran rin, masa aku disms terus dah sampai mana”

“kalo telat balasnya, astri malah sms kamu baik-baik ajah kan? Aku khawatir sama kamu”

Kemudian mas agus dengan panjang menjelaskan semuanya padaku, menyesal aku menggodanya. Tapi, entah kenapa aku juga merasa tidak enak perasaan namun ku berusaha tepis semua itu. Berdo’a semoga sampai tujuan dengan selamat.

Tibalah kejadian tidak diduga itu, tepat masih dijalan tol. Sebuah truk melaju dengan kencang dan mencoba menyalip bus kami, supir kami pun memberi isyarat untuk mengalah. Setelah truk tersebut, menyalip dari kanan lalu tiba-tiba saja truknya oleng karena ban kirinya pecah lalu menyenggol bus kami dan langsung jatuh seketika itu juga. Bus kami tidak sempat mengerem ataupun menghindar, ikut terjatuh. Aku lihat sekilas kakakku kepalanya terbentur kaca jendela, dan tidak lama pun terdengar hantaman dari kendaraan lain yang berada dibelakang kami. Setelah hantaman itu, kakakku terlempar ke luar bus. Aku pun ikut kehilangan kesadaran.

“Ibu…mas Agus..” ku bergumam lirih.

**

Yogja, 12 Desember 2012

Ku terbangun diruangan serba putih. Kepalaku terasa pusing sekali, namun sayup-sayup ada yang memanggil namaku. Perempuan cantik yang dibalut jilbab warna krem, terasa damai sekali aku melihatnya.

“Rin..syukurlah kamu siuman” terlihat raut mukanya yang sembab karena menangisi sesuatu.

“Mbak astri?” Sekilas aku ragu karena aku hanya melihat fotonya dari mas agus.

“Dimana ibu dan mas agus mbak..”tanya aku penasaran.

Perempuan itu terdiam sebentar, lalu meneteslah air mata itu. “Ibu masih komma di ruang UGD…”

“lalu mas agus..dimana mbak” semakin tidak karuan aku bertanya.

“mas agus…” terasa mengambang sekali dan diikuti derain air mata yang deras.

Serasa aku mengerti dengan kata-katanya, aku pun terhenyak dan terkejut bukan main. Semuanya begitu cepat, aku menatap dalam-dalam mbak astri.

“Iyah..rin, mas agus meninggal ditempat. Kepalanya terbentur keras jalanan dan sewaktu dibawa ke sini sudah tidak bernafas lagi”

Aku benar-benar sedih sekali mendengarnya, kami pun berdua menangis.

**

illustrasi (tumblr.com)

Setelah tiga hari, aku dan ibu beserta rombongan lainnya yang juga ikut terluka akan pulang ke solo. Alhamdulillah, ibuku ternyata masih diberi kesempatan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Walau mungkin terlihat jelas trauma itu benar-benar mengiris sebagian dirinya. yang meninggal dari kecelakaan itu adalah dua orang supir truk, kakakku dan supir bus kami. Saat ini aku menyakinkan diri sendiri dan ibuku untuk tetap sabar dan tabah serta ikhlas menjalani ini semua. Apa lagi dirasakan juga oleh mbak asri sebagai calon istrinya, pastilah ia juga merasakan kehilangan yang sangat pedih.

“Mudah-mudahan kamu juga sabar yah mbak astri…” kuberdoa dalam hati.

**

Kembali suguhan cerita super pendek nan tidak jelas ini saia hadirkan sebagai hasil dari mencuri-curi waktu disela jam kerja. Mudah-mudahan sedikitnya dapat bermanfaat terutama buat yang tidak membacanya. Mau yang lebih aneh..? baca juga kuburan gila.

Advertisements

6 thoughts on “yogja kelabu

  1. Pingback: stroberi dan semangka « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s