kuburan gila


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (flickr.com)

Malam yang dingin, rupanya tidak menyurutkan niatku untuk sekedar keluar rumah mencari sebongkah berlian. Terdengar gila memang, disaat akal dan logika menjadi ukuran seseorang normal atau tidak. Disaat itu pula rasa kemanusiaan mulai sedikit terkikis. Aku dicap sebagai orang gila yang mengada-ada, aneh dan dijauhi dari kampungku sendiri. Ini semua tidak lepas dari keyakinanku bahwa ditanah kuburan yang terkenal super angker itu merupakan tempat potensial untuk mengais rezeki terutama bertambang, kuburan ini dulunya tempat pembantaian orang-orang tak berdosa waktu zaman penjajahan jepang. Setidak itu stigma yang diselipkan oleh para tetua kampung, dan sialnya semua warga percaya. Mungkin cuma aku sendiri yang sedikit tidak waras bahwa aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu, aku hanya menyakini bahwa semuanya telah diatur oleh sang maha kuasa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam sebulan ada beberapa ‘penyembahan’ kepada para penghuni kuburan tersebut, entah itu berupa makanan ataupun sekedar tumbal ayam jago dan kepala kerbau. Pernah beberapa kali aku mengecam tindakan semacam itu, lebih baik makanan atau ‘sesembahan’ itu diberikan saja pada warga kampung yang memerlukan. Tapi hal itu mentah begitu saja, saat itulah warga mulai tidak menganggap kehadiranku.

Aku memang gila, tapi setidaknya aku masih dapat membedakan mana yang halal dan haram. Disaat semua mencari kerja dengan menghalalkan segala cara, aku memilih untuk ke kuburan tersebut. Daerah kampung kami tidaklah cocok untuk bertani, dikarenakan kondisi tanah yang keras dan batu-batu berkapur. Kebanyakan dari warga lebih memilih untuk berdagang, entah itu dilakukan ditempat ramai yang dikenal dengan istilah pasar ataupun hanya sekedar barter barang-barang kebutuhan hidup.

Kampung kami tidak terjamah oleh ‘antek-antek’ yang mengatasnamakan pembangunan, berswadaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan kampung kami. Positifnya adalah kampung kami, sedikit memiliki rasa kekeluargaan yang ‘erat’. Hal itu dapat dilihat ketika ada yang terkena ‘kutukan’ akibat melanggar dan bermain-main di dekat kuburan keramat tersebut, nyaris tidak ada satu warga pun yang menolongnya. Karena yang menolongnya pun akan ikut kecipratan ‘kutukan’. Hanya tetua yang berpengalaman saja yang dapat membantunya.

illustrasi (art-post.net)

Malam ini kuputuskan untuk mencari sebongkah berlian tersebut, dengan membawa perlengkapan seadanya berupa sekop, martil, senter, lampu templok dan segudang tekat kuat untuk menambang hingga esok hari. Karena menjelang esok hari, bila ada warga yang melihat aku menambang dan beraktivitas dikuburan ini, pastilah aku akan di ‘deportasi’ dari kampung karena hanya akan membawa kesialan pada semua warga kampung.

Keheningan malam tidak membuatku takut, meski memang ku akui bulu kuduk merinding semua tapi rupanya rasa takut terhadap sang maha pencipta lebih besar. Aku hanya berikhtiar saja dengan jalan menambang ini, sebelumnya kupanjatkan do’a meminta perlindungan agar semuanya berjalan dengan lancar. Sampai areal kuburan, aku mulai memasang perlengkapanku dan masuk pada gua yang berada dekat dengan kuburan tersebut. Belum ada satu wargapun yang pernah memasuki gua ini dikarenakan harus melewati kuburan yang angker.

Pertama kali masuk gua lalu ku memasang lampu templok, terlihat dinding-dinding gua memendarkan cahaya lampu templok dan bekas-bekas hasil tambang pun terlihat di seluruh dinding tersebut. Hal ini menambah keyakinanku bahwa gua ini adalah tempat menambang yang potensial. Ku mulai dengan bersemangat, sampai diriku kelelahan tapi masih belum ada hasilnya juga. Berperanglah jiwa negatif dan positif dalam hati. Apakah yang kulakukan ini benar atau hanya sekedar menjadi ‘gila’ untuk mendapatkan pengakuan dari semua warga. Atau memang benar-benar ada sesuatu yang berharga digua itu untuk ku tambang. Aaah, semua dengan cepat beraduk menjadi satu.

Tidak terasa hampir mau shubuh, ku mengistirahatkan diri sejenak dan menyandarkan pada dinding dua. Sembari melihat kearah sekeliling dengan nafas yang masih tersengal, ku menyadari hal yang ganjil pada lampu templok. Bukan karena lampunya, tapi karena dinding tempat ku memasang lampu sedikit rapuh dan sekilas ada lubang. Langsung saja ku coba tes dengan mengetukan martil pada dinding itu, terasa seperti ada rongga udara yang entah apa aku sendiri tidak tahu. Lampu sudah ku pindahkan, segera ku me-martil dinding tersebut, praaaang…benar saja dibalik dinding itu hancur membentuk segiempat. Ternyata ada sebuah kotak kayu, aku pun tidak sabar langsung membukanya.

illustrasi (dreamstime.com)

Diriku terkejut bukan main, didalam kotak tua itu ada perhiasan emas, berupa gelang dan kalung yang indah sekali, juga ada beberapa lembar uang kertas dan koin zaman dulu dan ada secarik surat disitu. Aku mulai membuka surat tersebut, sialnya aku tak mengerti bahasa dan tulisan yang tertera pada surat itu entah bahasa belanda atau bahasa inggris. Hatiku bersorak bahagia, walaupun tidak dapat berlian tapi ku mendapat beberapa perhiasan emas. Ketika adzan shubuh, barulah aku bergegas pulang ke rumah.

Mohon maaf jika ceritanya tidak jelas dan sedikit ‘ngelantur’. Ini hanyalah sebuah keisengan dalam bercerita yang aneh. Silakan dilanjutkan sendiri jalan ceritanya, mau yang sedih atau yang senang. Apakah tokoh ‘aku’ setelah kembali ke kampung akan menjadi orang yang sombong atau ternyata barang-barang yang ditemukan tokoh ‘aku’ ternyata tidak berharga sama sekali alias palsu dan ia akan dicap sebagai orang ‘gila’ selamanya lalu dideportasi dari kampungnya.

Semuanya tergantung dari imajinasi kawan-kawan semua, mudah-mudahan tidak bermanfaat buat orang yang tidak membacanya. Jangan lupakan juga cerita ngawur nek surti dan guntur.

Advertisements

3 thoughts on “kuburan gila

  1. Pingback: yogja kelabu « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s