reporter dan si komo


sedikit berbagi, begitu berarti…

Selamat malam pemirsa, saia ce’ban…reporter tipi es-cendol melaporkan langsung dari helicopter sewaan guna memantau arus bulak-balik dan mudak-mudik selama libur ramadhan.

illustrasi (omahkomik.blogspot.com)

Weleh-weleh..kemana-mana macet, apa kata kodok buncit nanti bahwa mereka telah berhasil membuat beberapa jalan alternatif tapi malah semakin menambah sejumlah titik-titik kemacetan. Atau bagaimana respon tikus ompong mengenai hasil mengerat ke sana-sini rupanya tidak terlalu digubris oleh lingkungan sekitar, tapi penghuninya malah asyik sendiri-sendiri dengan kehidupannya. Berbeda dengan si lalat hati, ia begitu bergembira terdengar dari desingan sayap-sayap mungil dan teman-temannya yang hampir ribuan menghinggapi setiap pengendara dijalanan, entah akibatnya akan mengeluh, memaki atau menghujat bahkan sampai tega mengotori ‘baju’ putihnya yang baru saja ia cuci selama sebulan.

Animo masyarakat yang ingin liburan, sekedar mengisi waktu luang anak-anak atau keponakan kecil mereka yang libur sekolah lebih besar ketimbang lebarnya jalan aspal yang terbentang. Lihat saja, dimana-mana jelas terlihat begitu jomplangnya antara jumlah kendaraan dan lebarnya jalan aspal yang ada, setiap reporter dari berbagai media melaporkan hal yang tidak jauh berbeda. Entah itu kemacetan parah yang membelenggu, korban-korban kecelakaan lalu-lintas selama mudik lebaran atau musibah-musibah kebakaran di ibukota dan lainnya.

Sialnya, terrnyata saia sendiri ikut tergerus ke dalam pusaran animo tersebut. Rela berdesak-desakan, berebut oksigen  yang seakan menipis di jalan aspal yang begitu lebar. Terpanggang matahari begitu saja, tanpa mampu melawan ataupun sekedar protes. Terlihat beberapa aparat malah sibuk menjaring ‘korban’ yang tidak melengkapi kendaraan mereka atau yang terlihat ‘membahayakan’ dengan berjubelnya barang-barang bawaan pada kendaraannya. Di sisi lain, ada aparat  yang begitu ikhlas dan tanggung jawab dengan tugasnya dan tegas mengatur kesemrawutan jalan. Ada juga yang aparat yang bersitegang dengan pak ‘ogah’ atau beberapa pemilik kendaraan umum yang entah sengaja atau tidak menurunkan dan menunggu penumpang di bahu jalan.

Terbukti bahwa manusia itu sebenarnya tidak gampang menyerah untuk mengejar  suatu impian atau tujuannya. Sudah tahu bakal macet, panas ataupun mengotori ‘baju putihnya’ tetapi tetap saja demi sampai kampung halaman, demi anak-anak senang apapun akan dihadapi. Salut buat para pengendara. InsyaAlloh ada ganjaran pahala jika diniatkan seperti itu. Amiin.

Lalu, akankah kita tetap menyalahkan si komo atas kemacetan-kemacetan yang terjadi? Atau malah kita sendirilah yang menjadi si komo dalam setiap adegan di jalan raya. Mudah-mudahan kita jadi si komo yang baik hati.

Buat anda yang ingin mengotori ‘baju putih’ yang sudah susah payah dicuci selama sebulan, silakan saja. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk ‘mencucinya’ kembali. Amiin.

Saia ce’ban melaporkan langsung dari tekape, kita kembali ke setudio. Terima kasih, mudah-mudahan bermanfaat.

Advertisements

10 thoughts on “reporter dan si komo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s