coklatku, teman setiaku


sedikit berbagi, begitu berarti…

Ada sedikit cerita berbeda dari aktivitas ketika berbuka puasa kemarin kemarinnya lagi, cerita ini saia comot dari buku harian si kontrakan baru. Biasanya berbuka puasa disini selalu ditemani oleh kolak, entah itu kolak pisang, kolak ubi, kolak kolang-kaling ataupun kolak campur. Itu berbuka puasa pada minggu pertama. Nah, pada jum’at kemarin saia dapat kiriman biskuit, roti dan energ*n.

Sudah beberapa hari ini, saia selalu buka dengan kiriman tersebut. Kiriman yang tidak gratis ini saia dapat dari supermarket depan jalan, sebagai jatah untuk minggu kedua berbuka puasa. Saia bersyukur sekali dengan menu-menu buka puasa yang sudah dan akan saia jalani, contohnya saja saia mencampurkan satu energ*n, biskuit dengan roti dalam satu gelas besar. Benar-benar mantaabs. Oh iya, saia lupa menyebutkan bahwa pertama membatalkan puasa dengan air putih selalu ada kurma manis nan legit untuk saia cicipi. Namun, rupanya kini kurma sudah habis juga.

Kemarin kemarinnya lagi, saia masih berbuka dengan sisa-sisa kiriman yang masih banyak. Hanya saja ada dua menu yang saia suka, yaitu coklat dan coklat. Sedikit berlebihan memang, namun sepertinya sah-sah saja jika berlebihan itu saia lakukan di sini. Kenapa? Masalah buat loe…?! Haaa. back to topic, coklat ini sebenarnya mungkin biasa untuk sebagian orang, apalagi buat yang chocoholic dan punya duit untuk membelinya. Tapi untuk saia yang ‘kere’, ini sungguh berarti sekali.

Coklat sederhana ini berbahan wafer yang dibalut dengan coklat legit yang melimpah di setiap lapisannya. Ini coklat atau wafer? Saia sendiri tidak begitu mempermasalahkannya. Yang pasti perbandingan coklat dan wafer itu sendiri menurut saia sekitar 70:30, dimana coklat tentunya yang lebih banyak. Sehingga pada gigitan pertama saja, coklat legit itu seakan lumer, luluh menyatu dalam lidah saia lalu memberikan sensasi dan kepuasan batin yang mantaabs. Benar katanya dengan memakan coklat akan membuat hati menjadi lebih tenang. Aah, nikmatnya.

Coklat ini pemberian si gadis cantik, totalnya ada dua dan baru satu saja saia makan pas kemarin kemarinnya lagi buka puasa. Sisanya akan saia nikmati buat esok hari. Atau mungkin ketika suasana hati tidak tenang. Tidak tenang karena keberadaan tempe dan tahu yang menjadi favorit saia sempat menghilang di pasaran. Tapi, Alhamdulillah berangsur membaik sekarang. Nah, jadi hubungannya apa coklat sama tahu-tempe?. Silakan kawan simpulkan sendiri, saia malas untuk menyimpulkannya. Lalu, apa  yang berbeda dari aktivitas saia ketika berbuka puasa? Apa karena kolaknya, atau campuran biskuit, energ*n dan roti, atau coklat dan wafer? Lah memang kenapa? Masalah buat loe…?! Haaa. **sindrom ngawur**

#maaf, hanya ingin saja.

Advertisements

9 thoughts on “coklatku, teman setiaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s