tragedi gang angker


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (flickr.com)

“Toloooong….!” terdengar suara teriakan dari arah gang sempit. Begitu banyak kejadian yang ditorehkan dalam gang sempit yang terkenal ‘angker’ itu. Bukan angker karena banyaknya hal-hal gaib atau yang berbau mistis. Tetapi, karena keangkerannya sering terjadi tindakan kriminal digang sempit tersebut. Mulai dari pencopetan, penusukan hingga pembunuhan. Yang terakhir malah terjadi pemerkosaan dan mutilasi terhadap korbannya. Sungguh tragis sekali kejadian-kejadian di gang sempit itu. Gang itu lebih terkenal dengan sebutan “Gang Angker” daripada nama aslinya Gang H. Iprit. Gang itu memang terletak diantara dua kavling kuburan dan pohon-pohon bambu. Sehingga jarang sekali orang keluar rumah setelah jam 9malam untuk sekedar lewat sana, biasanya semua pintu rumah sudah terkunci rapat. Sialnya itu merupakan jalan satu-satunya untuk sampai di rumah orangtuaku. Biasanya aku sendiri pulang dari kantor sekitar jam 6sore, setiba di gang angker tersebut jam 8sore, jadi masih aman buatku. Tapi, sungguh sial kuadrat, ternyata pak boss malah menyuruhku lembur buat mengerjakan laporan besok pagi.

Dengan sangat terpaksa, aku pun akhirnya lembur. Waktu sudah menunjukkan jam 9malam saat keluar dari kantor. Sampai gang angker jam 11malam, padahal jalan masih seratus meter lagi melewati gang angker tersebut tapi bulu kuduk ku sudah naik dari tadi. “Gila, merinding banget..harusnya tadi tidur saja dikantor” pikirku. Telat, merinding ini sudah sampai ubun-ubun tatkala mendengar teriakan minta tolong. Mana memang jalan sudah lengang dan sepi. Bulan purnama pula, tiba-tiba tercium semerbak bau kembang kuburan dan kemenyan.  Sungguh kesialan yang komplit buatku.

**

“Toloong…siapa sajaa tolooong” suara parau teriakan itu. Mau lari, tapi rasa pahlawanku malah dengan sombongnya keluar. Berlagak mau menyelamatkan yang dalam bahaya, padahal lututku saja sudah lemas apalagi bulu kuduk yang masih tegak berdiri. Sambil komat-kamit aku baca surat al-fatehah yang sudah familiar denganku. Karena saking paniknya, yang teringat hanyalah surat yang sering dibaca ketika sholat saja. Peduli itu apa fadilahnya, yang penting aku yakin. Tinggal baca, lalu meluncur. Dengan setengah berlari, aku menghampiri sumber teriakan tersebut. Setelah dirasa mulai mendekat, aku melambatkan langkahku sembari mengintip dari balik rindangnya pohon bambu.

Degup jantung yang berdebar, mata yang awas melihat disekeliling. Dengan penerangan seadanya, gang angker tersebut benar-benar memberikan suasana suram pada setiap yang lewat situ. Dibawah sinar bulan purnama, dibalik pohon bambu dengan jarak sekitar 20meter aku melihat sesosok nenek tua terbaring lemas tepat disebelah kuburan. Terlihat rupanya ia menggerak-gerakkan tangannya yang mungkin sudah keriput entah mengais tanah untuk bangun atau mencari kayu untuk perlindungan terhadap bahaya yang menantang. Nyaliku tiba-tiba menciut, keberanianku langsung buyar hilang entah kemana setiba aku melihat kejadian itu. Masih terdengar, sayup-sayup suara nenek tua itu meminta tolong.

Pikiranku sudah melambung kemana-mana, aku takut ada pembunuh sadis sedang berkeliaran dan menyadari kehadiranku. Dengan lutut yang masih lemas, aku memutuskan untuk memperhatikan keadaan sekitar. Aku takut sekali, bagaimana kalau tiba-tiba pembunuhnya ada dibelakangku dan langsung menebasku begitu saja. “Jleeb..”. Sambil menelan ludah membayangkan hal-hal yang menakutkan, ternyata suara nenek tua itu semakin hilang ditelan riuhnya suara-suara burung hantu dan angin yang menggerakkan pohon-pohon bambu sebagai bentuk simfoni kematian.

**

15menit mungkin sudah berlalu, mataku yang tadinya awas sudah mulai lemas. Aku perhatikan sepertinya hanya aku dan nenek tua itu yang terpisahkan jarak sekitar 20meter. Setelah celingukan, untuk memastikan bahwa keadaan aman. Akhirnya aku mulai memberanikan diri menolong nenek tersebut. Karena aku pikir mungkin pembunuhnya tidak jadi membunuh nenek tua, karena terlanjur teriak minta tolong. “Lagian apa yang bisa diambil dari seorang nenek tua” gumamku menghibur hati yang kalut. Ku bulatkan tekad, menghampiri lebih dekat lagi. Waktu malam terasa begitu lama seakan mengikuti gerakanku yang juga melambat, sembari tetap komat-kamit akhirnya aku tiba dihadapan nenek tua itu.

Dengan pakaian kebaya kusam, sarung kain bercorak bunga serta penutup kepala coklat yang juga ikut kusam. Terlihat sedikit kotor terkena tanah disekitar kuburan, aku perhatikan lebih teliti lagi ternyata tidak ada darah yang mengalir, itu artinya nenek tua ini mungkin baik-baik saja. Wajah yang keriput itu, terlihat pucat dan tertidur dengan damai. “Ya Alloh, apa sebenarnya yang menimpa nenek tua ini?” Aku periksa nadi tangannya, terasa sangat lemah lalu aku putuskan untuk menggendong nenek tua tersebut.

Baru saja nenek tua itu aku gendong. Muncul dari balik pohon bambu sesosok kakek tua, bayangan hitam itu mulai mengganggu pikiranku yang sempat damai. Aarghh..sial, pembunuhnya memang berniat untuk kondisi seperti ini. Dimana aku sedang menggendong nenek tua, si pembunuh datang menghabisi kami dengan mudah. Bayangan kakek tua itu terlihat menenteng golok sembari berjalan tergopoh ke arah kami. Komat-kamit pun makin tidak karuan, mau melepaskan gendongan pada nenek tua lalu kabur serasa tidak tega. Mau teriak minta tolong, malah suara ini tidak mau keluar.

Hanya bisa terdiam pasrah, sambil menggendong nenek tua. Lutut yang semakin bergetar, dan degup jantung yang iramanya seperti arus air yang kencang. Bibir dan lidah ini terasa kelu, tatkala sosok kakek tua yang kuyakini sebagai pembunuh itu mulai mendekat. Sialnya tiba-tiba kesadaranku mulai hilang, aku pasrah saat itu juga. Kami terjatuh seketika, sebelum aku pingsan gara-gara ketakutan dan kelelahan, samar-samar terlihat kakek tua itu sudah ada didepan mataku dan BRUUK.

**

Aku terbangun di sebuah bilik bambu yang entah milik siapa. Dengan badan masih terasa lemas, mengamati keadaan sekeliling lalu mataku tercengang dengan sosok didekat sebuah tungku api seperti sedang memasak sesuatu. Teringat dengan sosok nenek tua semalam, “aku pun bertanya apakah ini ada didunia lain?” pikiranku mulai kacau kembali. Nenek tua itu seperti khusyu didepan tungku, sembari meniup-niup api dengan sepotong bambu agar tidak padam. Tidak lama dari sebuah pintu, masuklah kakek tua yang kurasa aku mengenalnya. Bukankah itu pembunuhnya, tiba-tiba adrenalinku naik. Tingkat kepanikanku disusul oleh degup jantung yang kencang, lalu aku pun tak sadarkan lagi.

Ternyata aku baru tahu, setelah aku sadarkan diri beberapa jam kemudian. Kakek nenek itu adalah pasangan suami istri. Rupanya pada malam itu, nenek yang hendak menyusul kakek karena khawatir melewati gang angker tiba-tiba tersandung batu disekitar kuburan lalu terjatuh dan seketika itu encoknya kambuh. Nenek itupun berteriak minta tolong, karena kesulitan untuk bangun dan mungkin karena usianya yang lanjut nenek itu lalu pingsan. Kakek yang mendengar teriakan si nenek, lalu kembali takut-takut terjadi sesuatu pada si nenek makanya ia berjalan sambil menenteng golok, sehingga saat aku melihat sosok kakek itu aku pun langsung ketakutan setengah mati hingga ikutan pingsan bareng si nenek.

#aneh

Advertisements

35 thoughts on “tragedi gang angker

  1. Saia pikir ini cerita serem beneran, eh pas baca endingnya ternyata ini kisah sepasang kakek nenek yg saling bercarian 😀

    Kakek neneknya hebat!

  2. udah baca ternyata tragedinya nenek sedang pingsan dikira percobaan pembunuhan oleh kakek bawa golok. tokoh “aku” hebat walaupun pengecut. benar gak tragedinya itu?

  3. Pingback: reva dan gadis cantik « senitea's blog

  4. Pingback: tikus ompong « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s