air mata bunda


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (fiksi.kompasiana.com)

Senja itu, sehabis pulang mencari kayu bakar lalu istirahat di ‘bale’ bambu. Si buah hati datang menghampiri bunda.

“Bunda.., kata pak ustad zainal surga itu ada di telapak kaki bunda. Tapi, nanda lihatin dikakinya bunda gak  ada apa-apa? cuma kaki bunda ajah  yang kelihatannya kotor.” tanya buah hatinya tercinta. “Huuuh, pak ustad zainal itu sukanya bohongin anak kecil ajah yah…” dengus kesal nanda. Bunda tersenyum simpul melihat ekspresi wajah buah hatinya, sambil merangkul dan memeluk nanda sesekali mencium keningnya. “Iihh…bunda, apaan sih nanda kan udah gede gak usah dicium-cium mulu doong” bibirnya yang mungil ikut maju. Sekali lagi, bunda hanya tersenyum dan merasa bahagia dengan buah hatinya.

**

Sekitar  empat tahun yang lalu seorang bayi perempuan dilahirkan. Setelah bunda berjuang keras dengan mempertaruhkan hidup-mati digubuk yang sudah reot. Tanpa di temani suami tercinta ataupun sanak keluarga lainnya. Terkulai lemas, serasa habis semua tenaganya. Mak Acih, sang dukun beranak di kampung itu telah melakukan tugasnya dengan baik dan sungguh telaten. Seorang bayi perempuan lucu, dengan mata belo, hidung sedikit mancung dan berat badannya diperkirakan mak acih sekitar 3,5kg -karena tidak adanya timbangan- serta tangisan kencang yang terdengar hingga ke luar rumah. Bayi perempuan itu memiliki senyuman yang mampu meluluhkan hati setiap orang yang melihatnya. Bayi perempuan itu diberi nama Nanda Salsabila. Bunda benar-benar bersyukur dengan kehadiran buah hatinya.

Nanda Salsabila, adalah nama pemberian mendiang suaminya yang meninggal karena tertimpa tanah longor sewaktu suaminya tercinta hendak pulang mencari kayu bakar. Ketika itu, umur kandungan Bunda baru 5bulan. Kejadian itu sungguh membuat bunda terpukul, jikalau bukan karena janji terhadap suami tercinta untuk merawat anak pertamanya mungkin bunda yang saat itu kalut akan mengakhiri hidupnya.

Betapa tidak, hidup didaerah terpencil dan terasing itu sungguh berat. Saat suami tercintanya dikucilkan oleh ayah dan ibu kandung sendiri karena lebih memilih menikah dengan bunda daripada mengikuti nasehat mereka. Terputuslah hubungan kekeluargaan antara suami dengan keluarganya, sehingga dengan alasan itu pula sang suami tercinta membawa bunda hijrah ke suatu kampung di Kalimantan. Bunda yang memang yatim-piatu dari lahir, mengikuti jejak suami. Berprofesi sebagai pencari kayu bakar, bertempat tinggal di atas lahan 3×4 meter yang beralaskan tanah dan dibalut dengan bilik bambu serta atap dari daun nipah. Sungguh berat nian, untunglah sang suami yang selalu ada untuk mengobati hati bunda dan meringankan beban hidupnya. Tapi, itu dulu sewaktu suaminya masih ada disini. Tanpa terasa berlinanglah air mata bunda jika mengingat semua itu.

**

Menjadi pencari kayu bakar tidaklah mudah, dengan fisik yang semakin menurun bunda tetap bertahap untuk menghidupi sang buah hati. Tak kenal menyerah dan pantang berputus asa, itulah prinsip hidup bunda. Dan bunda pun yakin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan menelantarkan hamba-Nya begitu saja. Selama hamba-Nya berusaha dan ikhlas menjalani takdir-Nya, insyaAlloh akan dimudahkan segala sesuatu. Buktinya nanda, sang buah hati tumbuh menjadi anak yang cantik, periang, serba ingin tahu dan menggemaskan. Itu saja bagi bunda sudah lebih dari cukup.

Sejatinya bunda selalu ikhlas melakukan apapun untuk buah hati tercinta. Walaupun usahanya berhasil membuat bunda jatuh bangun sakit, entah sudah berapa kali jatuh sakit. Yang bunda tahu hanyalah merawat nanda dengan penuh rasa kasih sayang dan menjaga dengan segenap jiwa raganya. Terlihat raut wajah bunda yang menyiratkan suatu keteguhan dan pengorbanan luar biasa. Tidakkan kalian ingat, bahwa bunda kita akan memberikan segalanya buat buah hatinya. Aah, apakah sudah lupa saat masih kecil dulu kita sering ‘merepotkan’ bunda dengan rengekan, tangisan, ompol kita, eek kita dan lainnya. Dengan penuh kesabaran dan rasa ikhlas, bunda memenuhi semua rengekan kita, meredam tangisan kita dengan senyumnya, membersihkan ompol dan eek kita tanpa sedikitpun mengeluh. Lalu, dimana kita sekarang? Apakah kalian sudah membalas semua jasa-jasa bunda? Atau malah menelantarkannya?.

Nanda yang periang dan bawel, selalu  bertanya tentang apa saja yang ingin diketahuinya. bunda pun selalu senyum menanggapi setiap pertanyaan si buah hati, tak banyak bicara tapi selalu langsung memberikan contoh pada nanda. Beruntung, ketika Nanda sedang rewel-rewelnya mak acih selalu meredam dan membujuk Nanda. Setelah persalinan itu, mak acih yang sebatang kara tinggal bersama bunda dan nanda. Hadir sebagai sosok nenek yang bijak dan mampu menjaga nanda yang kini sudah dianggap sebagai cucunya sendiri. Ketika bunda harus mencari kayu bakar ke hutan, Mak Acihlah yang menjaga nanda, hadir menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilontarkan si buah hati.

**

Baru setahun kemarin, dikampung mereka ada sebuah surau sederhana yang beratapkan daun nipah dan rumbai. Sama dengan kebanyakan rumah disekitar situ, surau pun identik dengan bilik bambu. Surau itu dipimpin oleh ustad zainal, salahsatu lulusan pesantren di bumi jawa yang kemudian memilih untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmunya di kampung Kalimantan ini. Surau kecil itu ramai ketika menjelang dzuhur dan setelah ashar. Anak-anak kecil di kampung itu pergi mengaji fiqih dari jam 10.30 sampai menjelang dzuhur. Sedangkan setelah ashar barulah anak-anak belajar mengaji Al-Qur’an, dari mulai baca iqro sampai juz amma’.

Ustad Zainal sendiri sangat akrab dengan murid-muridnya, terutama nanda yang seperti biasa selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat geleng-geleng ustad zainal. Pernah suatu hari nanda bertanya, “pak ustad..pak ustad..hmm” sambil menggaruk-garuk jilbab hijau kusamnya yang kecil. Kata Pak ustad Alloh itu penyayang dan pengasih kan?” bola mata yang indah itu menyiratkan sebuah ketulusan pertanyaan. Terus, kenapa bunda seringkali menangis kalau malam, apakah Alloh tidak sayang sama bunda dan tidak mengabulkan do’a-do’a bunda? Definisi sayang dan mengabulkan do’a menurutnya adalah sederhana, sama seperti ketika nanda minta dibelikan sendal baru dan bunda menanggapinya dengan tersenyum manis lalu menggelengkan kepala tanda permintaan nanda tidak dikabulkan. Berapa kali Nanda merengek pun, bunda tetap menggelengkan kepala. Nanda kemudian lari ke dalam rumah dan mengadu kepada neneknya, mak acih. Untungnya mak acih selalu berhasil membujuk dan meredam rengekan nanda. Sejak saat itulah, terpatri dalam hati kecil nanda bahwa jika meminta sesuatu terus tidak dikabulkan berarti tidak sayang akhirnya malah buat nanda sedih dan nangis.

Ustad Zainal yang menyimak pertanyaan nanda pun lalu tersenyum, memberikan pengertian sesederhana mungkin. Alloh sayang sama kita semua termasuk bundanya nanda. Terus kenapa Bunda masih menangis? tukas nanda. “Bunda menangis, karena bunda sayang sekali sama nanda. Meminta sama Alloh agar Nanda diberi sehat” jawab bijak ustad zainal. Buktinya, nanda sekarang sehat kan, bisa mengaji ke sini, bercanda sama kawan-kawan yang lain. “Oooohh…” nanda pun mengangguk-angguk, entah itu mengerti atau tidak. Nanda langsung menghambur begitu saja pada kawan-kawannya.

**

“Nandaku sayang, surga itu memang ditelapak kaki bunda dan ustad zainal itu tidak bohong. Artinya bahwa anak yang soleh dan solehah serta berbakti sama kedua orangtuanya insyaAlloh balasannya surga.” gumam bunda dalam hati. Bunda sebenarnya ingin sekali menjelaskan berbagai hal dan menjawabnya langsung pertanyaan-pertanyaan dari buah hatinya. Bertegur sapa, bercengkrama. Namun apa daya, selama ini bunda hanya dapat tersenyum manis. Mungkin saat ini nanda belum terlalu menyadari ‘kelebihan’ bundanya itu karena setiap nanda merengek, saat itu pula  mak acih selalu menengahi, aah entah apa reaksi si buah hati jika mengetahui bundanya seorang tuna wicara. Tidak bisa bicara semenjak lahir dan karena alasan itu juga orang tua mendiang suaminya tidak menyetujui pernikahan mereka. Tapi, hanya mendiang suaminya yang jeli melihat mutiara dalam jiwa istrinya tercinta.

Entah sampai kapan, bunda hanya dapat berdo’a. Menangis di tengah malam, memohon kesehatan untuk si buah hati dan kelapangan jiwa jika saat itu tiba, saat dimana anaknya mungkin malu terhadap ‘kelebihan’ bundanya. Tapi hati kecil bunda yakin bahwa kelak nanda akan jadi anak yang berbakti pada orangtua. Setiap do’a bundanya selalu mengiringi si buah hati.

**

#maksaa

Advertisements

6 thoughts on “air mata bunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s