danau cinta senja


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (fotografi.tp.ac.id)

Semburat cahaya senja melukiskan siluet dua pasangan yang berada di situ. Angin mengetuk-mengetuk kursi kayu yang tengah diduduki sosok gadis berjilbab hijau. Jilbabnya kadang ikut melambai seiring dengan gerakan rumput disekitar mereka, sesekali sosok gadis itu membetulkan jilbabnya. Menunggu dan berharap kata-kata ‘sihir’ dari sosok yang berada didepannya. Seorang pemuda dengan kaos oblong krem yang bertuliskan “ME” dan bercelanakan jeans abu-abu belel kesayangannya dengan sandal jepit yang berwarna hitam. Terlihat begitu serasi dengan sawo-matang warna kulitnya, sembari melemparkan pandang ke tengah danau senja itu ia membetulkan kacamatanya.

“Kau masih ingat ketika pertama kali kita ‘bertemu’ di sini” ucap pemuda itu. Tanpa dijawab pun sebenarnya pemuda itu sudah tahu jawaban dari gadis yang selama ini menghiasi harinya. “Tepatnya setelah kamu membangunkanku dari keterpurukan yang dulu tengah ku hadapi, di sinilah awal aku mulai menyadari kehadiranmu, semua kebaikan-kebaikanmu dan kasih sayangmu.”

Seakan terbawa ke masa lalu, si Pemuda lalu diam. Meresapi benar kata-katanya sendiri. Keheningan antara mereka sempurna, ketika perasaan masing-masing terlempar ke suasana sore di masa lalu yang indah.

**

Sore itu, langit senja seakan menebarkan senyum indahnya pada setiap insan yang berada di danau tepi kota. Danau “cinta-senja”, itu menurut sebutan sebagian orang. Mungkin memang indah terlihat jika senja hari datang, apalagi bila dinikmati bersama dengan pasangan yang mencintai kita. Ini menjadi magnet tersendiri ketika semakin banyaknya pasangan muda mendatangi tempat tersebut, entah hanya sekadar untuk mengobrol atau hanya jalan sekitaran situ saja.

Pemandangan lain, terlihat dari sosok pemuda yang terlihat kusut sedang menyendiri di tepi danau “cinta-senja”. Dengan duduk selonjor dan tatapan yang kosong, gara-gara masalah keluarganya yang hendak bercerai selain itu terhimpit masalah utang dan pembayaran uang kuliah. Aah, semua tampak menyudutkan dirinya seakan tidak ada tempat untuk sekedar mengadu. Di tempat itu  ia benar-benar merasa sendiri, bahkan tidak menyadari ada yang memperhatikannya sedari tadi.

Gadis berjilbab hijau dengan paras yang menawan hati itu memperhatikan dengan gemas sosok pemuda yang berada tak jauh didepannya. Gadis itu bernama Latifah, merupakan keturunan arab-jawa dengan mancung hidungnya dan lembah-lembut perangainya. Aah, sungguh gadis yang sempurna. Sayangnya, si pemuda itu tidak menyadari sedikit pun perhatian Latifah dari semenjak semester kedua. Terlalu sibuk dengan masalah yang mengungkungnya, setiap hari berkutat dengan pertengkaran keluarganya dan urusan-urusan berbau uang dikuliahnya.

**

Sebenarnya pemuda itu tidaklah berbeda dengan pemuda kebanyakan, tapi entah kenapa Latifah benar-benar sudah tercuri hatinya oleh si pemuda itu. Sejak si pemuda itu menolong Latifah yang digoda oleh kawan-kawan kampus yang lain atau ketika Latifah sedang kehilangan liontin berharga peninggalan ibunya dan secara tidak sengaja diketemukan oleh si pemuda itu.  Entahlah apa yang membuat Latifah jatuh hati, karena cinta itu sendiri juga buta, apakah karena kebaikan-kebaikan hati si pemuda itu, rasa tanggung jawabnya ataukah kejujurannya. Semuanya terasa indah jika sedang jatuh cinta.

Namun sayangnya, si pemuda tidak begitu peduli dengan semua yang ia lakukan. Ia hanya melakukan apa yang perlu ia lakukan dan tidak melakukan apa yang menurutnya tidak perlu ia lakukan. Sesederhana itu, tidak ada alasan embel-embel apapun. Semuanya murni tanpa rencana dan rekayasa. Dan mungkin hal itulah yang menjadi nilai tambah si pemuda dimata Latifah.

**

“Hei, kenapa kamu terlihat kusut? Bukankah besok adalah hari dimana kita semua di wisuda? Harusnya kamu senang, bukan malah sedih dan tak bersemangat bukan?.” Tanya Latifah yang langsung menghampiri si pemuda karena saking gemasnya.

Si pemuda itu  hanya menoleh sebentar, tidak menanggapi pertanyaan Latifah. Mungkin si pemuda itu juga tidak sadar siapa gadis yang kini berada disampingnya, siapa dia dan apa peduli dia terhadap masalahnya. “Memang benar besok adalah wisuda, lalu kenapa dengan sikapnya apakah itu salah, apa gadis itu berhak mengatur-ngatur hidupnya, aah dia tidak tahu apa yang sedang aku hadapi saat ini” gumam si pemuda.

Seakan bisa membaca isi hati si pemuda, Latifah kemudian berkata sedikit lebih lantang. “Yaa, aku memang tidak tahu masalah apa dan sebesar apa yang kamu hadapi! Tapi aku sadar satu hal, kata-kata kamu dulu dalam menasehati kawan-kawan kuliah yang sedang dalam masalah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan melimpahkan masalah yang melebihi kemampuan hamba-Nya bukan?!.  Alloh Subhanahu Wa Ta’ala juga tidak akan merubah nasib suatu kaum, jikalau kaum itu tidak merubahnya sendiri?!. Lalu, apa bedanya kamu dengan keledai! Kalah oleh masalahmu sendiri, hanya berdiam tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu. Aah, kamu tidak seperti yang ku kenal dulu. Terlalu banyak perubahan itu. Selamat tinggal..” Latifah pun akhirnya meninggalkan si pemuda termenung dan terpekur sendiri.

Si Pemuda benar-benar serasa dipukul palu godam yang besar ke kepalanya, namun pukulan itu tidak menyakitinya melainkan membuatnya terbangun dari keterpurukan dirinya. Seakan malu dengan ucapan-ucapan dulu yang sering ia sampaikan pada kawan-kawan kuliah atau adik-adik dibawah angkatannya. Si pemuda itu pun, beranjak bangkit lalu setengah berlari mengejar gadis berjilbab hijau. Ia ingat gadis berparas cantik itu Latifah namanya, dulu ia sering sekali membantunya. Ia kini menyadari kehadiran Latifah dalam hidupnya. “Latifaaaah, tunggu sebentar…” suara serak dari si pemuda. “Kenapa kamu memberitahuku tentang semua ini? Kenapa kamu membantuku? Apa alasan kamu?” si pemuda mencoba bertanya halus.

Aku hanya punya satu alasan Hafidz, “karena aku sudah terlanjur sayang sama kamu”. Si pemuda, seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

**

Setelah kejadian itu. Di danau “cinta-senja” menjadi titik awal buat kehidupan Hafidz juga Latifah. Hafidz menyadari betul, memang tidak seharusnya ia menyerah begitu saja pada masalah-masalah hidup yang merundungnya. Ia harus bangkit dan tidak boleh berdiam diri begitu saja, teringat begitu banyak nikmat Tuhan yang kadang terlalu sering dilupakannya. Dengan perantara Tuhan melalu Latifah yang selalu mengingatkan Hafidz, ia kemudian bangkit dari kehidupannya yang menurutnya tidak adil.

Selepas acara wisuda, Hafidz membutuhkan waktu 3bulan untuk naik ke posisi atas dalam hidupnya. Alhamdulillah setelah lulus, ia sudah langsung direkrut oleh salah satu perusahaan terkemuka di kotanya. Karir Hafidz pun terbilang mulus dan lancar. Masalah-masalah hidup dan keluarganya pun sudah terselesaikan. Saat itu Hafidz merasa harus menemui Latifah di danau “cinta-senja” dan Hafidz pun yakin Latifah masih menyimpan perasaan itu. Ia harus melakukannya.

**

“Latifah…” suara lirih Hafidz memecah keheningan diantara mereka senja itu. “Terima kasih buat kamu, yang dulu mengingatkanku untuk bangkit dan membuatku berubah” ucap Hafidz. “Seharusnya kamu berterima kasih pada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala atas semua nikmat yang diberikan pada kita, aku hanyalah perantara saja” Tukas Latifah. “Dan aku bukanlah yang merubahmu, tapi kamu sendirilah yang memutuskan untuk berubah, masih ingat dengan Ayat itu..?” tambah Latifa. Sosok Latifa menjadi benar-benar sempurna dihadapan Hafidz, dan ia tidak ingin kehilangan momen itu.

“Apakah perasaanmu padaku masih ada?” tanya Hafidz. Dengan tersipu, Latifa seakan diam. Hanya raut wajahnya saja yang menggambarkan jawaban atas pertanyaan Hafidz. Pertanyaan itu pun dilontarkan Hafidz hanya sebagai pembuka untuk kalimat ‘sihir’ yang sebentar lagi akan diucapkannya. “Latifah, aku ingin melamarmu, memilihmu untuk menjadi pasangan hidupku” bibir Hafidz serasa bergetar diikuti suara seraknya.

Tambah tersipu malu Latifah, seakan tidak percaya dengan kata-kata barusan. Jilbab hijaunya ikut bersorak gembira tertiup angin, wajahnya yang merona merah tidak dapat lagi disembunyikan. Perasaan itu, rasa sayang itu sejatinya masih tersimpan buat Hafidz. “Hmm, maaf hafidz apa alasanmu melamarku” tanya Latifah. Sebenarnya pertanyaan itu tidaklah begitu penting, hanya sekedar butuh penegasan saja.

“Latifah..karena aku pun terlanjur sayang sama kamu” ucap syahdu Hafidz.

**

Danau “cinta-senja” menjadi saksi ikrar Hafidz dan Latifah.

**

#ngasaal bin ngambang
(silakan di ‘kripik sepedas-pedasnya’…terima kasih)

Advertisements

12 thoughts on “danau cinta senja

  1. wah keren. cerita cinta. kak senitea pasti cocok jadi sutradara film romantis. entar tra ikut dimasukan juga y dalam film sebagai Hafidz juga gak apa apa?

    • apaanya yang kereeen, baca ajah lum..
      bukan cerita cinta inih maah…haaa
      hmm..kamu cocoknya jadi apa yah…**mikir**
      ahaa, jadi kayu atau danaunya mau..?

      #kalo-mau-ikut-audisi

      • kak, senitea bo’ong. ada kata “cinta” di cerita senitea. ehm

        tra pengen jadi mentarinya saja gak apa apa. tra takut air.
        #ech ada audisinya. emangnya udah banyak yang daftar. gkgk 😀

      • kata cinta itu cuma mengaburkan doaank..
        **ketauan blom baca**

        hush..ditawarin jadi kursi atau danau, jadi mentari..
        tanpa audisi langsung saia tolaak…=))

        #yg-udah-daftar-ada-seratus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s