selamat berkendara


sedikit berbagi, begitu berarti…

Jalanan yang lurus tanpa adanya hambatan yang berarti? atau
Jalanan yang penuh belokan dan banyak hambatan?

illustrasi (wallpapers-free.co.uk)

Kalau kawan-kawan disuruh memilih diantara keduanya, kira-kira bakal milih yang mana? Life is choices, right? So, lets we decide what to choose. Anggaplah kita sebagai pengendara, apa itu motor, mobil atau yang lainnya. Tentunya sebagai pengendara, sebelum melakukan perjalanan pasti mempersiapkan bekal kan? Lalu, apa bekal kawan-kawan semua untuk mencapai tujuan tersebut? Jika di analogikan bahwa hidup juga seperti itu. Kita semua sedang berkendara, menggunakan kendaraannya dan bekalnya masing-masing tapi dengan tujuan yang sama. Ada yang pakai sepeda, becak, motor, mobil, kereta, kapal laut atau pesawat terbang dan sebagainya.

Menurut saia, kendaraannya yang kita pakai itu identik dengan “Habluminannas” apa itu, sedekah,   melindungi dan menyayangi anak yatim sedangkan bekalnya dapat dikatakan berhubungan dengan “Habluminalloh”, apa itu sholat fardlu, sholat sunnah dan ibadah-ibadah lainnya.

Kalau jalannya, yah dunia ini sebagai lahan dan jembatan sebelum sampai pada tujuan akhir. Tapi sama dengan berkendara, ada juga undang-undang atau aturan mengenai lalu-lintasnya. Dalam hidup yang menjadi sumber undang-undang aturan itu yakni Al-Qur’an dan Hadits. Ada penegak-penegak hukum yang selalu menegur dan mengingatkan kita semua, ada Kyai/Ulama, Umara atau pemimpin yang amanah. Oleh karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Ulama, Umara yang amanah insyaAlloh tidak akan tergelincir karena rambu-rambu tersebut, kalaupun tergelincir jatuh dan terluka mungkin tidak akan parah, karena kita menggunakan alat-alat pendukung keselamatan ketika hendak berkendara apa itu helm, sepatu, jaket yang dapat di analogikan seperti dzikrullah, sholawat kita, tasbih, tahmid, takbir, tahlil kita sehari-hari, senyum kita pada sesama dan lainnya.

Ironisnya, sudah tahu bahwa tujuan kita jauh sekali dan membutuhkan bekal yang banyak. Tapi masih saja berleha-leha, terlena oleh godaan-godaan di sepanjang pinggiran jalan kehidupan. Padahal kita sendiri tahu dan sadar betul untuk mencapai tujuan itu tidaklah mudah, akan ada banyak rintangan dan halangan sepanjang perjalanan. Entah itu pahit atau manis yang akan kita hadapi. Lalu, kenapa masih santai-santai saja? Sebagai pengendara yang mau sampai tujuan apakah ngebut ugal-ugalan atau santai pelan-pelan asal selamat, selalu ingatlah ada harga mahal yang harus dibayar ketika kita memutuskan untuk ngebut ataupun santai, tidak lain adalah WAKTU.

Siapapun tidak akan dapat mengembalikan waktu, begitu pentingnya peranan waktu dalam islam. Lihatlah beberapa firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, demi malam, demi dhuha, demi masa, demi waktu fajr dan lainnya. Tidakkah jelas semuanya? Lalu apa yang kita tunggu-tunggu lagi? Apa seperti pepatah mengatakan “tua-tua keladi, makin tua makin jadi” iyah..? menunggu datangnya hari tua, baru kemudian bertobat? Hei, siapa yang menjamin kita dapat hidup sampai hari tua? kamu..kamu…atau kamu? Tidak berusaha dengan baik tapi ingin dapat hasil yang memuaskan, mana pengorbanan kita? Isilah waktu-waktu kita dengan hal-hal yang positif dan dapat mendekatkan diri pada-Nya.

illustrasi (xeniagreekmuslimah.wordpress.com)

Aah..Saia tahu koq Alloh Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat, santai saja kawan hidup itu harus dinikmati. Apakah itu yang menyebabkan kita semua terlena dengan dunia?. Apakah harus dengan sakit, kematian, kehilangan harta baru kita sadar dengan semuanya, bahwa hidup hakikatnya adalah beribadah kepada-Nya. Lalu dimana tingkat kesadaran itu saat kita melakukan dosa-dosa yang kita anggap kecil, saat kita dengan tenangnya menyakiti sesama, saat kita meng-korupsikan waktu dan harta yang bukan milik kita. Tidakkah terlintas sedikit saja perasaan orang-orang yang tanpa sadar kita sakiti? kita rebut hak-haknya dengan paksa? menangis terluka dan berurai air matanya. Lalu, bagaimana jika posisi kita dibalik? kamu mau?

Aah..itu sudah biasa terjadi, namanya juga Hukum Rimba “yang kuat kan bertahan, yang lemah akan mati”. Hei, jaga kata-katamu, kita hidup di DUNIA bukan HUTAN semua ada rambu-rambunya. Jangan menghalalkan segala cara, ingat bukankah sekecil dzarrah pun akan dibalas oleh-Nya. Kita tahu juga bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala Maha Adil, tapi terkadang kita sendiri yang mempertanyakan dimana letak keadilannya. Bukankah begitu? Aah saia anggap saja seperti itu.

Oleh karenanya dalam berkendara di jalanan kehidupan ini, persiapkanlah kendaraan yang layak (habluminannas) dan perbekalan yang banyak (habluminaalloh). Pergunakanlah alat-alat pendukung keselamatan (dzikrulloh, sholawat) tersebut dengan bijak serta perhatikan rambu-rambu (Al-Qur’an dan Al-Hadits) yang berlaku. Selamat berkendara, kawan!

#cermin-diri

Advertisements

4 thoughts on “selamat berkendara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s