malam minggu yang indah


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (fotonomy.com)

Ketika itu, ba’da ashar saia mulai mengayuh reva untuk meluncur ke puncak (cisarua). Memenuhi undangan guru ngaji untuk menghadiri acara peringatan Isro Wal Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sekaligus khitanan anak beliau. Sudah lama sekali saia tidak silaturahmi ke guru ngaji saia, terakhir yang saia ingat setahun yang lalu. Meluncur dengan awan yang berarak mengikuti dan memayungi jejak langkah kami (saia dan reva). Prediksi saia adalah sampai sana maghrib, karena pasti arah yang menuju puncak hampir selalu dibelenggu oleh kemacetan yang menguras warasku. Apalagi wiken dan masa liburan anak-anak sekolah, bener-bener kombinasi yang pas banget untuk menambah kesemrawutan di jalan raya.

Benar saja, jalan macet dimana-mana. Tapi kemacetan ini, tidak membuat saia sedikitpun bergegas untuk sampai di tempat tujuan. Saia berusaha menikmatinya senyaman mungkin. Belasan polisi pengatur lalu lintas terlihat sibuk mengayunkan tongkat yang menyala-nyala warna merah dan meniup peluitnya. Sesekali geram dengan angkot-angkot yang malah ‘ngetem’ menunggu penumpangnya. Para pejalan kaki pun, berjalan di sekitar kami pengendara motor. Kemacetan yang luar biasa menguras energi siapa saja yang tidak sabaran, mulai lantuan klakson yang bersahut-sahutan. Umpatan dan makian para pengendara dengan sumpah serapahnya. Entah kepada siapa itu disampaikan menambah riuh suasana di tengah jalan raya yang macet itu.

Memang saat itu, para pengendara motor maupun mobil benar-benar stuck alias diam tak berkutik akibat dari macet. Hanya dengusan nafsu menginjak gas dan rem yang bertubi-tubi mampu menaikkan emosi yang terpendam. Saia sendiri bertahan dan memaksa diri agar tidak ikut tenggelam terbawa arus emosi yang kuat menyapu siapa saja yang tidak kuat bertahan. Alhamdulillah, saia dapat melewati rintangan kemacetan itu. Saia sampai pas banget ketika maghrib. Sampai dengan perasaan pangling dengan suasana jalan yang menuju tempat guru saia. Banyak sekali orang berjualan dikiri jalan, seperti pasar tumpah saja. Sebelum saia ke tempat guru ngaji, saia silaturahmi sekalian parkir motor juga di rumah kawan lama. Pas di belokan ke tempat kawan, tidak disangka saia malah langsung bertemu dengan guru ngaji di situ. Menyapa beliau yang seakan kaget juga dengan kedatangan saia. Memang sudah lama sekali saia tidak ke tempat beliau, kenapa? Karena saia sering merasa bersalah dengan terlalu banyaknya dosa yang saia lakukan, apalagi ketemu guru sekaligus Habib tanpa saia bilang pun pasti beliau seakan tahu akan dosa-dosa saia. Itulah yang menjadi alasan saia kenapa jarang mengunjungi Habib atau guru ngaji, walaupun beliau dengan hangatnya pasti menjamu dan memuliakan murid-muridnya dan tamunya yang datang. Memang tidak ada ikrar antara kami murid dan guru, berjalan seperti apa adanya.

Saat itu adzan maghrib pun sedang berkumandang, saia segera pamit hendak ke rumah kawan. Setelah memarkirkan reva yang kepanasan, karena jarang juga naik ke puncak sampai dirumah kawan, semuanya seperti menanyakan kabar saia. “Kemana ajah nih meni gak pernah maen ke sini lagi” ucap ibu dan istri kawan saia. Saia pun menjawab pertanyaan itu dengan senyum saja. Kawan-kawan lain pun sudah ada disitu, sekalian temu kangen. Lalu kami pun menuju mesjid untuk sholat maghrib, selesai sholat kembali lagi ke tempat kawan saia. Saling mengobrol, lalu bercengkrama dengan anaknya yang cantik. Ahh, sungguh kolaborasi yang indah. Kawan seperjuangan, keluarga  yang hangat serta jamuan-jamuan sederhana yang mewah.

Tak terasa sudah isya’ lagi, sesudah menunaikan sholat isya’ barulah kami mendatangi acara peringatan Isro Wal Mi’rajnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, duduk beralaskan tikar, karpet serta terpal di hamparan tanah lapang sembari menghadap panggung kayu kecil. Sesekali tampak jama’ah berdatangan mulai memadati majlis tersebut. Acara yang penuh istrighfar, sholawat dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menambah khusyu’ dan ta’zim para jama’ah ditambah dengan hadirnya pengisi tausyiah para Habaib, Kyai/Ulama juga tokoh masyarakat. Kadang-kadang di tengah tausyiah, saia suka sekali tertidur.

Banyak sekali yang saia dapat dari sini, sekitar jam 12kurang kalau tidak salah acaranya selesai. Tadinya saia kira kawan-kawan saia mau pada nginep dan pulangnya besok shubuh, tapi ternyata selesai acara langsung pamitan sama Habib (guru ngaji), saia ikut saja daripada pulang sendirian lebih baik bareng-bareng. Singkat cerita, sudah pamitan kita semua pulang beramai-ramai menggunakan motor, kalau tidak salah ada 6 atau tujuh motor. Hanya saia yang sendiri tidak ada boncengannya. Malam itu benar-benar dingin sangat, menelusup hingga ke tulang dinginnya. Kami semua berarak perlahan berbarengan, sampai pada suatu jalan kita terpisah, mungkin karena sebagian besar kawan mengambil jalan yang berbeda. Hanya saia dan kawan (dua motor) yang barengan ambil jalan yang sama.

illustrasi (abandonletters.wordpress.com)

Tepat di lampu merah Ciawi, menjadi peristiwa yang mungkin akan saia kenang dan ambil pelajarannya. Sekitar pukul 02.00 WIB, saia dan reva mengalami kecelakaan karena tidak melihat adanya lubang sepanjang satu meter yang menganga, dengan dalamnya sekitar 30-50cm, yang paling parah bahkan sampai 100cm. Berhubung saia juga jarang sekali lewat jalur situ, akhirnya kami (saia dan reva) terlempar ke jalan, mencium kasarnya aspal dan beradu dengan suara “BRAAAAK…”. Sepersekian detik saia terpisah dengan reva, terlempar dengan pasrah digerus kasarnya aspal. Dengan masih refleks saia langung berdiri, seketika itu langsung berusaha menghentikan laju kendaraan yang berada dibelakang kami. Dengan kepayahan saia melambaikan kedua tangan saia “STOOP…STOPPP” sembari berteriak serak. Kemudian saia melihat reva terbaring lemas tak berdaya, tak kuperhatikan saat itu bahwa ternyata kaca spion pecah, stangnya miring, foot stepnya malah ikutan miring dengan luka baret-baret pada tubuhnya. Kontan saia pun berteriak kepada orang sekitar untuk memapahnya. Alhamdulillah, saat itu pas banget lampu merah. Jadi kami keluar dari jalan raya dipapah orang-orang sekitar.

Tak lama kawan saia yang berada dibelakang menghampiri saia dan menemani saia. Saat itu barulah tubuh saia merasakan sakit, perih dan linu. Rasanya tak karuan sekali, melihat celana dan switer coklat yang robek dan bolong akibat ‘mencium’ ganasnya aspal. Terlihat ada darah yang sedikit keluar dan luka yang sedikit menganga ditambah punggung dan tangan ini serasa pegal luar biasa. Dengan tidak terlalu memikirkan kondisi saia, kami pun meneruskan perjalanan dengan perlahan menyusur pinggiran jalan raya. Saia menolak halus saran kawan untuk berobat ke klinik 24 jam, berpura-pura tidak apa-apa hanya luka kecil saja.

Sampai di gubuk-reot saia pun membersihkan luka dengan kompresan air hangat, lalu berusaha tidur. Barulah setelah bangun rasanya tubuh ini serasa linu luar biasa, tangan kanan saia lemasnya bukan main, tidak bisa menggerakkan dengan fasih karena memang lukanya pas di siku lengan. Ibu saia menyarankan agar diurut. Akhirnya hari itu full istirahat dan diurut, karena memapah reva sendiri pun saia tidak kuat. Paginya saia melihat kembali keadaan sahabat saia reva, kalau saja ia manusia, pasti saat itu juga ia menjerit, saat itu juga ia menangis menahan perihnya luka sekujur tubuh. Maafkan saia sahabat, biarlah ini jadi pengganjar dosa-dosa saia sebelum masuk bulan ramadhan. Sekaligus penggugur dosa di bulan sya’ban ini. Begitu banyak hikmah yang dapat saia petik, salahsatunya adalah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala masih menyayangi saia sehingga saia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Berusaha selalu istiqomah walaupun onak dan duri selalu hadir. Berusaha lebih mendekatkan diri walau kadang iman saia yazid wa yanfus, apalagi menjelang ramadhan, bulan yang sudah dinanti-nantikan kedatangannya. Mudah-mudahan dipertemukan dengannya. Aamiin

Mudah-mudahan cerita saia ini bermanfaat, dan dapat diambil hikmahnya masing-masing. Tidak lain niatnya saia hanya “sedikit berbagi, begitu berarti”. Tetap hati-hati dijalan raya, INGAT keluarga anda menanti di rumah.

Advertisements

9 thoughts on “malam minggu yang indah

  1. Pingback: sodaranya iblis « senitea's blog

  2. Pingback: jangan jadi ‘KEBO’ « senitea's blog

  3. Pingback: pentingnya musyawarah « senitea's blog

  4. ebuset, wah semoga lekas sembuh masnya,
    laen kali jangan liwat situ lagi di jam 02.00 pagi mas, kata emak saya sih, kalo sudah malem larut lebih baik nginep aja hehehe 😀

    dan sepertinya ada himbauan dari Allah untuk sampeyan beli mobil tuh … sepertinya lho 😀

    amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s