mie ayam ‘iblis’


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (amasreev.blogspot.com)

Dari judulnya sudah ketahuan apa yang saia akan bagikan, jadi alternatif lain ketika akan makan siang untuk kesekian kalinya. Kalau sedang malas-malasnya makan nasi, daripada pesen soto ayam Surabaya, gado-gado lontong atau nasi padang dan ayam goreng yang notabene semuanya pasti pake nasi. Kalau siang hari ketika istirahat, terlalu banyak asupan karbo juga sangat berpengaruh buat saia. Dampaknya tak lain adalah mengantuk alias tunduh bin mata sepet/berat seakan-akan saat itu juga pengennya langsung tidur. Padahal lebih seringnya tertidur depan laptop dengan pose seperti orang kerja, tapi aslinya sedang tertidur (haa, jangan ditiru yah).

Untuk menghindari rasa kantuk yang berlebihan, biasanya saia atau kawan saia akan beli mie ayam ‘iblis’ (baca:belibis). Tempatnya masih sekitaran kantor kami, seperti biasa harga hemat dan bersahabat menjadi point utama makan siang. Selain itu asupan karbonya lebih rendah dari sepiring nasi atau sepiring lontong. Jadi kemungkinan untuk mengantuk lebih kecil, jatuhlah pilihan pada mie ayam ‘iblis’. Bener kan?

Mie tipis yang berwarna kuning, terlihat menari ‘samba’ menggoda. Air kuahnya seperti kolam renang, ingin sekali cepat-cepat berenang dalam kuahnya. Sudah gitu, ada taburan ayam-ayam yang pok..pok..pok..pok **bukan iklan**. Ada juga pangsit coklat yang membuat hati hancur setelah menggigitnya, begitu kreees langsung saja saia ceburkan dalam kuahnya. Jangan tanya saia makannya pakai apa? Mie ayam yah pake sumpit bukan? Saia bukannya sombong bin takabbur. Biasanya sumpit akan saia singkirkan, lebih nyaman pake sendok (aslinya gak bisa pake sumpit..haa).

Saia tidak tahu kenapa mie ayam itu dikasih nama ‘iblis’ (baca:belibis). Katanya sih karena sambelnya itu lhooh yang dapat langsung membuat keringat mengucur deras, kepala gatel minta digaruk-garuk, mata berair dan tentunya bibir serta lidahnya jontor kepedesan. Tapi tetap saja buat ngeyel untuk nambah sambelnya **laki, makannya sambel**. Sambil nyerocos gak jelas, tanpa terasa mie ayamnya sudah habis ludes yang bersisa hanya kardus stereofoamnya sama sumpit.

Lalu setelah makan mie ayam, apakah saia tidak mengantuk? Jelas tidaklah, kan asupan karbonya lebih rendah dari sepiring nasi. Sampai 30-60menit ke depan, baru saia merasakan efeknya. Kalau saia mengantuk, itu bukanlah karena mie ayamnya tapi karena terlalu lelah dalam bekerja **alibi**. Hoooaaam..tuh kan, sambil mengucek-cek mata dan menguap sesekali saia ucapkan selamat tidurr siaang. ZZzzzzZZ.

Hikmahnya mungkin:

“Mau makan nasi atau mie atau apapun juga yang namanya ‘PELOR’ bin ‘KEBLUK’ tetep ajah”

“Jangan pernah menyela atau menyalahkan makanan apapun”

Advertisements

26 thoughts on “mie ayam ‘iblis’

  1. beruntunglah saia tidak begitu menyukai mie ayam, jd tdk akan bertemu dengan mie ayam iblis itu 😛

    eh tapi katanya sihgitu kalau kekenyangan bikin ngantukk 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s