balado gado-gado lontong


sedikit berbagi, begitu berarti…

Ada satu alternatif ketika makan siang selain suroboyoan, biasalah namanya manusia pengennya itu kalau makan rotasi melulu, alias gonta-ganti pengen makan enak. Tapi kalau hidup kita dirotasi, pasti langsung saja bertanya-tanya kenapa begini? Kenapa begitu? Kenapa saia? Terlalu banyak pertanyaan malah, apalagi ketika dirotasi ke posisi terbawah dalam kehidupan kita. Selintas pun tidak berpikir bahwa masih ada yang paling bawah dari kita, tidak bersyukur sama sekali. Benerlah apa yang saia baca pada sebuah stiker motor bahwa “ketika lapar, galak” dan “sudah kenyang, bego”. Mudah-mudahan itu jadi perhatian buat kita semuanya. Duuh, jadi melenceng begini yah.

gado-gado lontong

Kembali ke laptop, eaa…eaa..eaaa. Siang itu, karena sebelumnya sudah suroboyoan saia merotasinya dengan gado-gado lontong. Siapa tak pernah makan gado-gado? Lain daerah mungkin nama dan sayurnya pun kadang berbeda. Gado-gado jadi pengganti buat makan nasi, padahal kan sama-sama terbuat dari beras. Harga yang hemat dan bersahabat menjadi pilihan buat saia makan siang. Lumayan ada tambahan seratnya, daripada tidak ada sama sekali.

Ada toge, bayam, kangkung, timun, kol ditambah potongan tahu semuanya terbalut siraman saus kacang yang begitu kentara jadi satu semuanya. Kemudian ditaburi oleh kerupuk, kreeess suaranya ketika saia gigit keruput dan sayur itu masuk dalam mulut. Terasa sekali saus kacangnya, tidak terlalu pedas juga tidak terlalu hambar, yang sedang-sedang saja. Nah, itu adalah gado-gado dekat pasar, lain lagi dengan tukang gado-gado yang masih sejajar hanya dipisahkan oleh berdirinya ruko-ruko. Dengan jarak sekitar 15meter, tukang gado-gado di dekat ruko beda lagi sayurnya. Tapi kalo lontongnya sama saja, cuma beda porsinya sajah. Dengan sayur toge, kangkung, timun, kol, paria/pare, ditambah potongan tahu dan tempe, serta warna dari saus kacangnya lebih pekat. Hmm, mantaablah.

gado-gado lagi

Itu sedikit cerita gado-gado di tempat saia, bagaimana dengan gado-gado di tempat kawan-kawan semuanya? Apakah ada yang berbeda, silakan dibagikan ceritanya.

Hikmahnya mungkin:
“Wajar atau normal jika kita bosan terhadap sesuatu (makanan contohnya), tapi tetap berusaha mensyukuri apa yang sudah ada wajib hukumnya”

Advertisements

9 thoughts on “balado gado-gado lontong

  1. Pingback: mie ayam ‘iblis’ « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s