dibalik awan hitam


sedikit berbagi, begitu berarti…

Jum’at, adalah jadwalku untuk pulkam. Setelah kurang lebih lima hari merajut sebuah jahitan kehidupan rutin yang tidak henti-hentinya ku jalani di Ibukota. Kadang bosan alias jenuh itu pun lebih sering datang daripada pergi, merasuk dan memaksa diri ke dalam posisi yang stagnant. Tak berkembang dan acapkali lebih menjerumuskan hati dalam jurang-jurang penuh nista dan dosa.

awan hitam @pinggir-jalan

Langit jum’at kemarin terlihat begitu mendung, awan hitam yang berarak menjadi tanda bahwa akan turun hujan. Keadaan itu tidak memaksaku untuk tetap tinggal, ku pun harus terus bergerak seiring dengan gerakan awan hitam tersebut. Dengan terburu ku pulang ontime dari tempat kerja, meluncur sejenak ke kontrakan yang baru satu malam kusinggahi. Membereskan beberapa pakaian ‘pengganti’ dan merapikan yang perlu dirapikan sebelum pergi, firasat bahwa memang akan turun hujan semua perlengkapan masuk tas ‘gembolan’ sudah ku lapisi dengan plastik transparan.

Ditemani awan hitam yang seakan melambaikan tangannya juga angin sore yang menggelitik seluruh tubuh, aku mulai mengayuh reva dengan perlahan. Sekitar jam 17.20 aku meluncur dari kontrakan, dengan niat untuk sholat maghrib di jalan. Jalanan memang tidak pernah sepi dari sesaknya kendaraan yang memenuhi setiap centimeter dari badan jalan. Oleh karena itu, mengayuh reva dalam keadaan yang padat mau tidak mau harus sedikit egois. Dengan memaksa menyalip dan menyerobot tiap ada kesempatan melewati motor atau mobil didepan, kadang terjadi benturan-benturan ‘kecil’ yang mengakibatkan ‘perang dingin’ antar pengendara sudah ku anggap biasa. Mungkin itulah salahsatu kurikulum pendidikan yang berlaku dijalanan.

masih awan hitam @pinggir jalan

Sekitar 15menit kemudian, terlihat awan hitam itu pun semakin bergumul dengan pekatnya. Diikuti terpaan angin yang sudah tidak sepoi-sepoi, ku mulai menyingkir sejenak dari jalanan untuk berganti dengan jas hujan. Sedia payung sebelum hujan, peribahasa yang ku terapkan dan cocok untuk mengantisipasi segala bentuk kemungkinan. Aku pun membutuhkan waktu sekitar 5menit untuk melapisi tubuh dengan jas ‘anti hujan’, dijalanan terlihat wara-wiri semua pengendara dengan tergesa berbaur dengan semburat cahaya lampu masing-masing kendaraan menjadi ritme tersendiri yang melankolis apalagi jika malam tiba, berpendaran cahaya antara lampu jalan dan lampu dari motor atau mobil bersatu dalam kepekatan malam yang menghitam.

Benar saja, sekitar 10menit dari tempat pit-stop yang tadi, turunlah hujan mulai dari rintik-rintik sampai bergerombol membuat sebuah deras hujan yang membasahi bumi. Alhamdulillah, diriku yang sudah memakai jas hujan tidak perlu menepi lagi. Senyum kemenangan mengembang melihat pengendara lain yang terlanjur kehujanan dan menepi ke pinggir jalan. Aku masih saja terus melaju, di derasnya air hujan sayup-sayup terdengar adzan maghrib. Karena ku sudah niat untuk maghrib di tempat biasa, mesjid yang berada disebrang jalan pun ku lewati berkali-kali. Setelah sampai di tempat biasa, yaitu sebuah pom bensin pinggir jalan. Melakukan sholat maghrib berjama’ah di ruangan kecil berukuran 4x3mtr dimana jam’ahnya kadang bergantian antara wanita dan pria, atau malah kadang langsung bergabung saja tanpa adanya hijab. Selesai sholat maghrib, Alhamdulillah hujan pun sedikit mereda, ku teruskan setengah perjalanan ini.

martabak-manis bangka @bogor

Setelah kurang lebih 40menit, aku sampai di sebuah toko makanan. Martabak manis Bangka, itu tulisan yang menempel pada gerobaknya. Ku berhenti di tempat biasa untuk membeli martabak sekedarnya untuk para penghuni gubuk-reot. Dengan mengantri di belakang dua orang, ku pun memesan martabak keju-coklat (setengah keju-setengah coklat) kemudian sambil menunggu ku memperhatikan keadaan sekeliling jalan sambil sesekali mencuri pandang pada martabak-martabak yang sedang dibuat. Untuk mengambil dokumentasi, diriku kadang berpura-pura sms atau memainkan hape ‘kenzo’. Layaknya seperti paparazzi yang masih belepotan, terkadang harusnya ku motret tanpa diketahui, ternyata blitz (cahaya) dalam keadaan aktif. Jadilah salah tingkah sendiri, berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Paling juga disangka orang udik alias ndesoo yang baru punya hape, biarkanlah.

Martabak yang begitu legitnya, kaya akan kandungan ‘manis’. Dari pertama berupa adonan yang dituang kedalam sebuah loyang alias cetakan saja sudah di taburi dengan gula-gula pasir halus dan susu kental. Setelah di angkat pun, di lapisi oleh mentega yang banyak banget. Bisa dibayangkan martabak yang masih panas kemudian dilumuri mentega? Ya, lumeran mentega memenuhi semua bagian atas martabak tanpa terkecuali. Beres dengan lumeran, di susul kemudian oleh taburan keju parut yang melimpah ruah dan taburan meses-coklat yang juga melimpah. Setengah keju dan setengah coklat terlihat begitu menggiurkan, tak lama berselang kemudian taburan yang melimpah tersebut dihujani tetesan-tetesan susu kental manis yang begitu derasnya. Hmmm, barulah setelah itu martabaknya dibalik untuk dipotong kecil-kecil yang sebelumnya juga dilumuri dengan mentega kembali. Martabak manis yang nendang dengan harga yang bersahabat tentunya.

Tiba di gubuk-reot, melihat para penghuninya tersenyum dan tertawa sungguh merupakan kedamaian tersendiri buatku. Menggembirakan orang rumah, siapa yang tidak sudi. Menikmati martabak-manis sehabis basah kuyup kehujanan, merupakan kombinasi yang mantaabs. Bersamaan dengan itu, melakukan ‘bebersih’ dan isya’ sekaligus meng-istirahatkan diri juga reva. Tadinya ingin sekali lihat pertandingan bola EURO, tetapi berhubung saluran tivinya banyak semut, akhirnya ku putuskan untuk berlayar ke pulau impian. Dengan penat yang hinggap dan rasa lelah yang mengikat, membuat ‘pelayaran’ kali ini lebih cepat sampai.

Advertisements

17 thoughts on “dibalik awan hitam

  1. Pingback: enaknya KTP (E-KTP) « senitea's blog

  2. Pingback: dilema persahabatan « senitea's blog

  3. Pingback: bukber dengan gadis imut « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s