trip to glodok (bag.1)


sedikit berbagi, begitu berarti…

jenuh dengan kerjaan anda sehari-hari?
bingung mau ngapain? dan tidak tahu mau kemana?
lebih baik anda ikut saia saja ke glodok.

trip-to-glodok

illustrasi (coachdawnwrites.com)

Glodok, tempat berbagai macam kebutuhan ada di sana. Dari yang mahal sampai murah, dari makanan sampai minuman, dari pakaian sampai furniture, dari teknologi sederhana sampai canggih. Dari yang ‘gelap-gelapan’ sampai yang ‘terang’, dari yang ‘legal’ sampai yang ‘bajakan’, dari yang ‘tertutup’ sampai yang ‘buka-bukaan’. Semuanya ada, dari yang ‘gak tahu’ jadi ‘tahu’. Komplit jadi satu paket yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

Ini adalah cerita “Trip to Glodok” dua hari berturut-turut yang dimulai dengan teman saia yang mau berbelanja  beberapa komponen untuk merakit sebuah PSU (Power Supply Unit).

Hari pertama

Meluncur di tengah hari yang mendung. Ditemani awan yang berwajah sendu, kami meluncur dengan ‘petir’. Sebenarnya hari itu saia sedang berpuasa, tapi karena memang harus ada yang menemani sekalian membantu untuk bawa ‘trafo’ juga ‘casing’ yang lumayan berat. Akhirnya saia mengajukan diri sebagai ‘volunteer’ partner kawan saia. Walaupun sebelumnya sudah diingatkan bahwa perjalanannya lumayan capek, tidak apa-apalah yang penting nge-trip (pikir saia dalam hati).

Walaupun cuma di bonceng, tapi ternyata memang capeknya itu ‘poll’. Padahal perjalanan belum ada setengahnya. Perjalanan yang memakan waktu dua jam itu terasa lama, berkali-kali saia beristighfar dan mengingatkan kawan saia untuk santai dalam perjalanan. Tidak membuatnya berubah sama sekali, menyerobot-menyerubut menyalip setiap ada kesempatan. Melewati celah sempit antar mobil mewah yang berseliweran atau kadang truk dan bus yang jadi sasaran. Celah sempit yang menghimpit akibat ulah sopir yang pelit, membuat perut saia ikut melilit gara-gara kawan saia yang ‘ngebut’ bagai orang yang sedang pailit. Sepertinya tidak akan berhenti jika belum terdengar suara “praaaang” dari kaca spion yang patah atau bodi mobil yang baret.

Sepanjang perjalanan, sudah dag-dig-dug. Memang trip ini gratis, tinggal duduk manis sampai tujuan. Tapi sayangnya ‘grasak-grusuk’ kejar setoran gak jelas. Saia yang ‘ndeso’ berdecak kagum melihat berbagai macam bangunan yang tinggi. Sejak terdampar sekitar satu tahun lalu di sini, saia tidak pernah mengitari atau sekedar berkeliling untuk melihat tempat-tempat yang populer, saia lebih cinta sama kota sendiri. Tidak disana atau tidak disini, sama-sama macet. Macet yang tidak bersahabat, setelah kurang lebih satu jam, kami berdua baru sampai KOTA. Dan daerah situ ada kejadian yang mungkin lucu gak jelas, ketika macet-macetnya kawan saia yang memutar daerah JEMBATAN LIMA mau ke arah GLODOK, karena berada dibelakang mobil-mobil, jadinya pandangan di depan pun agak sedikit terhalang. Dimulailah kebiasaan kawan saia menggeber-geber motor tidak sabaar, tinggal 1cm lagi mobil itu kena cium ‘petir’. Kemudian, setelah macetnya agak ‘longgar’ kawanku menyalip kanan dan melesaat. Entah bagaiamana, tiba-tiba kami sudah berada di jalur BUSWAY.

busway-on the way

illustrasi (pradananusantara.wordpress.com)

Nah Lho, saia pun panik banget, sudah keringat mengucur terus dari tadi. Ternyata kawan saia juga tidak kalah panik, apalagi ketika suara itu “TOOOOT….TOOOT…” bunyi keras dari BUSWAY yang berada tepat 15meter dibelakang kami. Kalang-kabut amprul-amprulan, makin dag-dig-dug. Kawan saia mencoba menerobos jalur pembatas BUSWAY yang lumayan buat Ban serta Velg bikin gempor. Beberapa kali mencoba namun gagal, “TOOOT….TOOOOT”. Waaduuuuh, jarak yang semakin dekat antara BUSWAY dengan kami membuat saia benar-benar pasraah sampai suara “BRAAAAK”, terasa sekali hantamannya. Bukan karena kami ditabrak, tapi kami Alhamdulillah berhasil lepas dari keadaan yang menegangkan. Kawan saia akhirnya berhasil keluar jalur BUSWAY ke jalur biasa, setelah beberapa mencoba. Untungnya tidak ada polisi, kalau ada bakal tambah runyam masalahnya.

Lolos dari yang tadi, kembali bergelut dengan macet yang membuatku sedikit pening kepala, muka pucaat, rasa hauus yang mencekik. Campuraduk semuanya. Sampailah kami di Glodok, parkirlah dipinggir jalan yang memang disediakan untuk lahan parkir. Disitulah, berkali-kali saia mengamati seluruh aktivitas ‘jual-beli’ yang ada disitu. Kami segera pun meluncur ke tempat bagian electric untuk mencari komponen yang ada dilist belanjaan. Mutar-muter semakin membuat kepalaku tambah pusing apalagi haus yang sudaah benar-benar tidak bisa di tolerir. Berdiri di sebuah toko,  terdengar sayup-sayup sapaan ‘nci’ atupun ‘koko’. “Berapaan ci..? Gak bisa kurang lagi ko..?” Sepertinya tidak jauh dari itu. Saia lagi-lagi hanya memperhatikan saja. Di samping saia, terlihat seraut wajah dibalut rasa kecewa karena barang yang dipesan ternyata belum kunjung datang. Yang kutahu, ternyata barangnya baru datang esok sore. Sedangkan untuk komponen lain, tetap dipesan di toko itu. Kawan saia kecewa sekaligus kecapean, ia mau makan atau minum sepertinya merasa tidak enak dengan saia.

lapar-banget

illustrasi (tkj2.com)

Akhirnya saia bilang padanya, udaah gak usah khawatir. Yuuk, kita cari makan aja. Kawan saia yang tidak enak membawa kami keluar dari toko tersebut. Di tengah jalan, ia bilang pengen makan SOTO TANGKAR. Saia pun hanya mengerutkan dahi tanda tidak tahu dan mengerti. Ikut sajalah. Memasuki tempat ‘food court’ yang berada di luar kawasan glodok, saia begitu terheran-heran sekaligus kaget karena dengan bertubi-tubi para ‘penjual’ makanan menawari berbagai makanan dan minuman dengan sangat ambisius. Tiba di dalam, ternyata SOTO TANGKAR yang diharapkan  sedang tidak berjualan, jadinya kami memesan nasi soto daging dan es teh tawar.

Tidak ada perasaan bersalah ketika saia membatalkan puasa kemarin. Sungguh tipis iman ini. Setelah kenyang, kembali kami  ke dalam kawasan toko-toko untuk mencari lagi beberapa komponen yang dibutuhkan. Mutar-muter lagi, sudah lemas kedua kaki ini. Akhirnya tidak lama kami pun memutuskan untuk meluncur pulang kembali ke kantor dan melanjutkannya esok hari. Jalanan yang penuh sesak, menghirup polusi secara cuma-cuma dan bergelut dengan macet yang sedikit akrab kami hadapi dengan pasrah. Sebelum sampai kantor, kami menyempatkan diri beristirahat sejenak di tukang es kelapa, segaaaar rasanya tenggorokan saia. Walaupun sebentar, tapi cukup mengisi ulang ‘baterai’ kami hingga sampai kantor.

Advertisements

One thought on “trip to glodok (bag.1)

  1. Pingback: trip to glodok (bag.2) | sedikit berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s