muhasabah cinta dipelaminan


sedikit berbagi, begitu berarti…

Sepasang pengantin duduk di atas pelaminan yang tak jauh dari tempatku menyantap hidangan walimahan. Dengan berbalut pakaian merah marun dipadukan dengan hiasan bunga melati putih dibelakang kedua pengantin. Kursi pengantin yang berwarnakan keemasan diikuti hamparan sajadah berwarna merah sebagai alas untuk kami para tamu undangan yang datang. Sungguh suatu kesederhanaan yang terlihat mewah dimataku.

sepasang-pengantin

illustrasi (untuk-pembebasan.blogspot.com)

Sabtu kemarin, aku memenuhi undangan pernikahan salahsatu teman lama, dari undangannya yang lewat sms, ku tahu bahwa pernikahannya di selenggarakan di dalam mesjid. Berangkat ba’da Dzuhur, dengan terik matahari yang lumayan menyengat tidak menyurutkan niatku untuk tidak hadir. Menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya sampai di tujuan. Pasanganku reva, tapi ia dengan setia menungguku di tempat parkir yang telah disediakan. Sampai di depan ‘pagar-bagus’ ku menorehkan nama di atas buku tamu undangan. Memasuki pintu masuk tamu undangan yang terpisah antara ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan) ku disambut hangat oleh sebuah lagu nasyid yang terdengar akrab di telinga. Salahsatu lagu Edcoustic yang berjudul “Muhasabah Cinta” menjadi lantunan yang pas saat ku duduk dengan khusyu’ sambil mendengarkan dan meresapi inti dari lagu tersebut. Sembari menunggu pengantin yang sholat dzuhur, akhirnya aku pun menenggelamkan diri dalam lantunan lagu nasyid itu.

Wahai… Pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini

Berat ujian dariMu

Ku pasrahkan semua padaMu

Tuhan… Baru ku sadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini ku harapkan cintaMu

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berzikir di kidung doaku

Sakit yang kurasa

Biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta air mataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah selama ini

Ya Ilahi….

Muhasabah cintaku…

Tuhan… Kuatkan aku

Lindungiku dari putus asa

Jika ku harus mati

Pertemukan aku denganMu

Sakit yang ku rasa

Ku benar-benar terlena dengan suara dari teman-teman nasyid, begitu merdu dan menghayati setiap untaian kata yang keluar  (agak berlebihan). Sampai akhirnya, sang pengantin sudah kembali menduduki singgasana mahligai pernikahannya. Dengan basmallah, ku menghampiri kedua pasangan yang tengah berbahagia itu. Terlihat sekali rona-rona wajah yang teduh disambung terdengar sayup-sayup ucapan do’a dari tamu undangan yang berada di depanku. Tiba giliran ku sendiri, bagai dua sahabat yang tak lama berjumpa, kita pun saling mendekatkan kepala kita (istilah kasarnya ‘cipika cipiki’), tapi bukan seperti kebanyakan yang dilakukan wanita. Dengan sambil berpelukan sahabat dalam islam, ku pun mendo’akan temanku. Dia pun bertanya, “Alhamdulillah..gimana kabar antum?” sambil tersenyum ke arahku. “Alhamdulillah..sehat akhi, antum udah ngeduluan anna nih..” bercanda sama temanku. Obrolan yang singkat itupun diakhiri sekali lagi dengan ucapan selamat kepada temanku dan istrinya.

Setelah itu, ku pun mendatangi sebuah stand hidangan walimahan. Mengambil dengan seadanya, ku pun duduk didekat pintu masuk yang berbaur dengan teman-teman nasyid, temanku. Di tengah-tengah ku menyantap, beberapa kali lantunan nasyid itu pun membuatku ikut bernyanyi. Mulai dari raihan, snada, gradasi, justice voice, edcoustic dan lainnya seakan-akan membuatku betah untuk berlama-lama disitu.

Santapan itu pun telah habis, sambil tetap khusyu’ mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh tim nasyid yang cukup pengalaman itu (setidaknya menurutku). Tiba-tiba ku melihat seorang yang dulu ketika sma, juga kuliah memberikan  mentoring padaku. Teringat dulu, diriku jadi DKM ‘bayangan’ dimana imannya masih STMJ. Tidak jauh dengan sekarang, diriku masih bersifat seperti ‘bayangan’ dan STMJ. Akhirnya ku menyapa mentorku itu dan Alhamdulillah, ia masih ingat wajahku walaupun sempat lupa nama. Obral-obrol dengan mentorku berakhir dengan memberikan nomer hapeku. Ku harus pamit, karena ku sendiri juga ada janji dengan teman yang lain, terlihat dari missed call dan sms dari temanku yang lain.

Dengan berat, ku melangkahkan kaki untuk pamit pada pasangan pengantin. Padahal ku senang dengan lagu-lagu yang dilantunkan, sayangnya tidak ada hijab ataupun pembatas antara ikhwan dan akhwat tamu undangan yang datang. Jadi bercampur baur semuanya, tapi dengan muhrimnya masing-masing koq, cuma ku sendiri dan teman-teman nasyid mungkin. Sehingga ada sedikit iri juga (hehe). Cuma intermezzo sedikit.

Keluar parkiran dengan reva yang setia menunggu, ku meluncur ketempat tujuan kedua. Tetap diikuti oleh terik matahari yang masih menyengat. Sayup-sayup dalam hati, semoga menjadi keluarga yang sakinnah, mawaddah, warohmah warobbun ghoffur temanku. Semoga ku juga cepat menyusulmu. InsyaAlloh. Amiin.

Advertisements

14 thoughts on “muhasabah cinta dipelaminan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s