namanya rully


sedikit berbagi, begitu berarti…

illustrasi (commons.wikimedia.org)

Tadi pagi, ketika saia sarapan nasi uduk betawi disebelah ada seorang bapak dengan perawakan badan tinggi sedang, kulitnya putih, umurnya saia taksir sekitar 50an dengan aksesoris kacamata melekat diatas kepalanya. Bapak itu memesan telor dan kentang yang disemur kecap, dipiring yang terpisah ia juga memesan tahu dan tempe goreng dengan sambal menempel dipiring. Jadi bapak itu pesan dua piring, sedangkan saia seperti biasa nasi uduk sama telor, tahu+tempe semur.

Saat ditengah-tengah bapak itu pesan makanan, saia sekedar nanya “Waah..pak, gak pake nasinya? Lauk semua tuuh..” Lalu, “kan sudah ada kentang pak..” sambil tersenyum ia menjawab. “Oooh..” jawab saia seadanya. Lalu akhirnya di sela-sela makan, mulailah kami teruskan mengobrol.
“kerja pak..?” tanya bapak tua itu.
“iyaah…alhamdulillah..” jawab saia.
“di mana kerjanya pak..” tanya bapak itu lagi.
“itu dekat dari sini, ‘lembah buluk indah’..” jawab saia lagi.
“nah, kalau bapak sendiri berangkat kerja juga…” balas saia yang tanya.
“bapak tadi anterin anak ke sekolah..tadinya mau ke apotik, tapi masih tutup dan akhirnya bapak mampir ke warung ini” je;as bapak itu.
“ohh..sekolahnya dimana gitu pak..?” tanya saia penasaran
“daerah ‘patmawateh’..” langsung dijawab bapaknya.
begitulah obrolan kami, sesekali selesai mengunyah tanya jawab itupun kembali. Dari obral-obrol soal kerjaan, sukhoi, hemat bbm oleh presiden kita, lumpur lapindo dibawa-bawa sampai ditanya udah berkeluarga belum. Saia jawab ”Alhamdulillah belum pak…”.

Buat orang yang sudah sarat dengan pengalaman, beberapa kali bapak itu memberikan sebuah pandangan hidupnya. Saia merasa dikuliahi lagi, karena bapak itu juga memberikan sebuah konsep dasar mengenai teknologi informasi yang dulu saia geluti hingga kini. Mengangguk-angguk pertanda saia paham maksud bapak itu, tidak mencela sedikitpun. Dalam hati merasa, jangan-jangan bapak itu motivator lagi yang sedang menyamar. Ditengah saia makan, bapak itu rupanya menambah kentang semur, katanya enak buatannya ibu pemilik warung.

Sedangkan saia, sebentar lagi nasi uduk itu habis tak bersisa, hanya tinggal piring dan sendoknya. Ada satu lagi kejadian unik, ketika bapak itu sudah selesai makan, eh ia malah membawa piring dan gelas kotornya ke belakang. Akhirnya kata ibu pemilik warung, “sudah..gak usah pak, taruh aja disitu..gak apa-apa”. Bapak itu pun kembali duduk untuk menikmati kopi yang barusan ia pesan. Sambil merokok bapak itu pun melanjutkan obrolannya dengan saia yang juga sudah selesai makan. Karena beliau tahu saia kerjanya sebagai ‘IT-dadakan’, yang ekspresi wajahnya pertama kali saia beri tahu ia sedikit kebingungan dengan istilah ‘dadakan’. Yah, saia jelaskan saja apa adanya.

Tidak terasa, sudah jam 8 lebih rupanya. Sepertinya saia harus buru-buru berangkat, ketika hendak bayar, bapak itu bilang ”Udaah, gak usah bayar pak, kita kan kawan..biar saia saja yang bayar..”
dengan ekspresi bingung, saia menjawab “gak usah pak, gak apa-apa koq…makasih” sambil menyodorkan uang 20rb-an sama ibu pemilik warung.
“Mas..gak ada uang kecilnya? soalnya gak ada kembalinya” ucap ibu pemilik warung
“waah..ndak ada bu..” sambil merogoh-rogoh kantong celana.
“udaah..biar sama saia aja semuanya bu” tiba-tiba bapak itu bilang ibu pemilik warung
“nah..lho makin tidak enaklah saia” gumamku dalam hati
“rezeki jangan ditolak looh..kita kan kawan” timpal bapak itu seakan tahu isi hati saia.
saia pun pasrah, berkali-kali bilang terima kasih..kemudian karena tidak enak, saia pun duduk kembali. Untuk mengobrol sebentar lagi. Akhirnya saia pun berkenalan lah dengan bapak itu, yang ternyata bapak itu seorang konsultan keuangan, tadinya setengah bercanda, bapak itu bilang “kalo kamu ‘IT-dadakan, berarti saia ‘konsultan-dadakan yah..haaahaa” sambil tertawa puas bapak itu. Setelah itu saia berikan kertas dan pulpen untuk menulis masing-masing nama juga nomor yang dapat dihubungi. Itu permintaan bapaknya, bukan saia karena menurutnya mudah-mudahan kita ketemu lagi. Dan begitu ada proyek yang berhubungan dengan bidang IT, ia akan menghubungi saia. Bapak yang unik dan baik hati.

bapak-rully

nomernya bapak rully

“tururut-tururut-turuuuuruuuruut…” ringtone khas ‘nukieu’ saia pun bunyi. Ternyata teman kantor saia yang telepon. Akhirnya setelah menerima telp, saia pun kemudian pamit karena harus berangkat ke kantor dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan Alloh SWT membalas kebaikannya. Dan kita bertemu di lain kesempatan. Ada satu wejangan dari bapak itu yang saia ingat “Mulai saat ini, jangan ada kata-kata ‘terbatas’ lagi.. tetap optimis dan percaya diri” saia yang lemot pun, memikirkan dan menyelami makna dibalik kata-kata bapak itu.

“Mulai saat ini,
jangan ada kata-kata ‘terbatas’ lagi..
tetap optimis dan percaya diri”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s