ayam lepaas dan istri temanku


sedikit berbagi, begitu berarti…

Cerita ini adalah lanjutan dari pelangi di curug nangka. Selesai dari curug nangka, kemudian meluncur ke rumah temanku. Sholat dzuhur, lalu istirahat sambil tiduran melepaskan lelah yang mengikat  dengan selonjoran, sesekali ngobrol gak karuan dengan temanku. Ditemani segelas air putih dan angin yang menelusup masuk lewat jendela, membuat mata ini begitu berat. Ingin rasanya, tidur pulas saat itu juga. Jika tidak ingat bahwa ku disuruh mampir oleh temanku  yang lain, entah sekedar mampir atau silaturahmi. Tetap saja, ku harus mampir walaupun cuma sebentar. Beranjak dari istirahatku, ku mulai membereskan barang-barang yang ada, padahal cuma pakaian kotor dan tas slempang saja. Kemudian ku pamit sama temanku, karena masih ada urusan lain di tempat teman yang berbeda.

istri-temanku

illustrasi (inkindle.wordpress.com)

Sekitar jam 14.30 meluncurlah diriku, di bawah terik matahari yang sudah tidak panas. Ditengah perjalanan, tadinya ku berencana mau menyimpang sebentar ke ‘perkampungan arab’ untuk mencari minyak wangi yang sama dengan pemberian bosku, karena ku yakin persediaan disana sangatlah lengkap mulai dari non-alcohol sampai yang ada alkoholnya. Tapi karena situasi juga tidak memungkinkan, akhirnya ku melewati tempat itu begitu saja. Kemacetan sesekali menjadi bumbu di kota hujan ini, walaupun tidak separah kemarin.

Hampir satu jam sudah perjalanan yang kutempuh, dengan sisa-sisa tenaga yang ada berlari bersama reva ke tempat temanku. Tiba-tiba ku merasa perutku kosong, benar saja ku ingat bahwa ku memang belum makan siang. Apalagi radang tenggorokan yang belum sembuh-sembuh juga, akhirnya ku memikirkan untuk mengisi perut ini terlebih dahulu, karena ku tidak mau jika sampai merepotkan temanku kembali, apalagi dia udah punya anak istri, makin tidak enaklah. Melewati berbagai macam panganan, ku bingung mau makan apa, tadinya mau makan bakso tapi kupikir asupan karbonya kurang. Teringatlah ada tempat yang belum ku sambangi di  sekitar tempat temanku.

Ayam lepaas, tulisan besar pada kain sablon yang melambai-lambai seakan mengajak orang untuk mampir. Ku pun memang penasaran, tiap kali lewat situ tidak pernah makan ‘ayam lepas’, lha gimana mau makan ayamnya, wong ayamnya juga lepas (intermezzo dikit) lari-lari dulu ngejar ayam. Memasang lampu sen ke arah kiri, memarkirkan reva yang sama-sama terlihat lesu dampak dari perjalanan. Masuk ke dalam, terdengar sapaan khas “Selamaat dataaang, silakan!.” Ku menuju salahsatu waitress yang ada disana, sambil menyodorkan menu iapun bertanya, “Mau pesan apa mas…?” sapanya hangat. Ku sendiri melihat-lihat daftar menu yang ada, ayam seru, ayam lepaas, ayam lemaas dan beberapa oseng-osengan. “Ayam lepaas itu maksudnya apa yah mba…?” tanyaku pada waitress tersebut.
“Ayam lepaas itu ayam lezaat pedaas”, lalu “ayam lemaaas itu ayam lezaat maaniis” tanpa ditanya ia pun menjelaskan.

Yah sudah, kuputuskan ingin mencoba ayam lepaas dengan es jeruk sebagai penghilang dahaga. “Ayam lepaas dadanya satuuuu…” terdengar waitreesnya setengah berteriak ke bagian dapur. Sedangkan ku sendiri memilih tempat yang sesuai untuk duduk, jam segini masih banyak bangku yang kosong hanya ada beberapa pasangan ataupun keluarga yang makan jauh didepanku. Duduk di pojokkan, yang langsung menghadap ke luar jalan, sendiri saja ditemani tas slempangku. Tak lama es jerukknya sudah datang duluan bersamaan dengan adzan ashar yang berkumandang. Sesekali ku perhatikan seorang tua penuh senyum, juru parkir sedang membantu memarkirkan motor atau mobil yang masuk dan keluar. Menyeruput  es jeruk yang menyegarkan suasana.

ayam-lepaas

illustrasi (id.openrice.com)

“Ayaam lepaasnya mas, silaakan…” seorang waitress yang berbeda menghampiriku membawa pesanan. “Makasiih..” balasku. Sekarang tersaji satu porsi ayam lepaas (lezaat pedaas),  dengan potongan dada ayam goreng yang besaar, tipis terbalut semacam terigu atau yang biasa ayam crispy gitu tapi ini lebih tipis. Potongan kecil terong oseng dan dua potong timun yang memanjang dan sebuah sambel ulek berwarna ijo, terlihat ada bawang putih dan merah yang di ulek kasar menyatu dengan cabenya. Sambelnya ternyata adalah sambel mentah alias tidak di goreng, tetapi memang ulekan langsung dari bahan yang sudah disediakan. Terlihat manis memang, ditambah ada semacam telur-telur kecil atau terigu goreng dari ayamnya, rasanya sudah pernah ‘nyoba’ tapi ku lupa apa namanya.

Dengan membaca basmallah, yang sebelumnya sudah mencuci tangan terlebih dahulu. Ku mulai melakukana gerilya pada sajian di depanku. Ayam yang empuk dan tidak alot, tapi bumbunya kurang begitu terasa (setidaknya menurut lidahku). Mencuil sedikit sambel yang ada dengan cubitan ayam, hmmm…wooow, rasanya begitu pedaas seakan membakaar tenggorokanku yang sedang radang. Benar-benar tidak menyangka pedaasnya tidak main-main, sudaah nasinya panaas, ayamnya pun melawan dengan kepulan panasnya dan ternyata sambelnya pun tidak kaaalah ‘panas’. Ku rasa mungkin ini cabenya sekitar 10 atau lebih barangkali. Makan seperti orang sakit, benar-benar perlahan seiring hilangnya pedaas di bibir dan lidaah disaat itu ku mulai makan kembali, begitu seterusnya. Sampai benar-benar sudah kegiatan makan yang menghasilkan beberapa bulir keringat ditubuhku.

Sudah kenyang dengan makan ayaam lepaas, ku menuju kasir membayar 22rb untuk paket yang tadi kupesan. Kemudian naik ke lantai atas menuju musholla, di beritahu oleh kasirnya. Setelah sholat ashar, barulah ku kembali meluncur ke rumah temanku. Sekitar 10menit sampai sana, lalu biasa ngobrol  ‘ngalor ngidul’ sesekali bercengkrama dengan anak-anaknya. Rencananya ku tidak akan lama di sana, paling sebelum maghrib ku sudah harus ada di rumah. Dari pagi ku meluncur, udah gitu mana belum bilaas lagi. Pokoknya gak enak banget rasanya  badan ini. Ternyata rencana memang tinggal rencana, apa yang sudah direncakan tidak berjalan sesuai harapan. Temanku sama anak istrinya memang baru pulang juga dari Jakarta, terlihat keletihan di wajah temanku. Tetapi tidak dengan anak-anaknya, waah..kelak ku memang harus sabaar dan ekstra ketika berkeluarga nanti. Ketika ku mau pamitan, ternyata istri temanku minta tolong anterin anak-anak  ke rumah ibunya, mertua temanku. Karena mau belanja bulanan katanya, lagipula kalau bawa anak-anak pasti repot sangat. Ku tahu hal itu, akhirnya dengan berat hati sekaligus pasrah (karena dimintai tolong) ku meluncur dengan temanku juga dua anaknya, yang kecil tidak dibawa. Berjalan dengan perlahan reva membawa kami ke tempat mertuanya yang berada sekitar 1km dari rumah temanku. Sampai pas adzan maghrib, kemudian temanku memandikan anak-anaknya, ku pun sholat maghrib. Setelah itu ngobrol sebentar dengan mertuanya, menunggu kelengahan dari anaknya yang masih kecil, temanku menitipkan sebentar pada mertuanya. Lalu kami pun pamit, kembali menuju rumah temanku. Tadinya setelah sampai, ku mau langsung pamit karena tidak enak sama penghuni rumahku. Apa mau dikata, temanku memintaku menemaninya belanja bulanaan, lagipula mereka masih ingin mengobrol banyak denganku.

Yah sudah, itung-itung sekedar ingin tahu seberapa banyak belanja bulanan orang yang berumah tangga dan sudah dikaruniai 3 orang putra-putri lucu yang cantik dan ganteng. Meluncurlah kami ke salahsatu pusat perbelanjaan , ku sendiri bersama reva dan temanku bersama istri serta anaknya yang masih bayi (kurang dari 1th). Sekitar 15 menit kita sampai disana, berbagi tugas antara temanku dan istrinya. Temanku membawa anaknya untuk kemudian pergi mencari tempat ngobrol denganku, sedangkan istrinya bertugas belanja.  Tak lama kemudian, kita (aku dan temanku juga anaknya) pergi ke depan pintu masuk utama, ada sebuah bangku dan meja kosong. Biasalah ngobrol ‘ngalor-ngidul’ lagi, kemudian memesan milo juga bansus kesukaanku. Tiba-tiba temanku bilang bahwa handphonenya mati, karena takut nanti istrinya mencari temanku, lagian dompetnya juga ada ditemanku. Otomatis ia langsung ngasih opsi padaku, mau cariin istrinya dan bilang sama dia sekaligus ngasih kartu ‘ajaib’ atau ku yang gendong anaknya itu. Waduuh, dua-duanya pilihan sulit menurutku. Karena takut menggendong bayi, alasan masih kaku akhirnya ku menyusul dan mencari istri temanku yang sedang belanja.

illustrasi (omahkecil.blogspot.com)

Masuk ke dalam, suasana yang begitu ramai dengan hiruk pikuk orang berbelanja. Benar-benar bingung, tadi istri temanku pake baju apa yaah…? bertanya dalam hati. Sesekali sambil memperhatikan orang lewat, teringat bahwa salahsatu belanjaan yang mau dibeli yaitu susu. Akhirnya ku menuju bagian susu, tak disangka ditengah ku mencari istri temanku, malah bertemu dengan teman lain, adik kelas dikampus dulu. Sudahlah ngobrol sebentar sama temanku itu, sambil menggoda anaknya yang naik ke atas troli belanjaan. Dari nanya kabar sampai sama siapa ke sini, temanku seperti wartawan saja. “Lagi nyari istri teman, beneran…mau nganterin ini doank “ menunjukkan kartu ‘ajaib’. “Istri teman atau istri…?” canda temanku itu.
“Beneran istri teman, dia lagi jagain anaknya sedang istrinya lagi belanja daripada ku yang gendong anaknya mending nganterin ini ke istrinya…” paparku menjelaskan.
yah sudah, tanpa berlama-lama ku lanjutkan pencarian istri temanku.

Singkat cerita (bisa sampai satu buku kalo certain full), setelah ketemu istri temanku. Terus membantunya membawakan trolli tambahan hingga dua trolli penuh dengan bahan kebutuhan orang yang sudah berumah tangga, setengah terbelalak kaget, melihat jumlah belanjaan yang sedemikian banyaknya. Pas dorong trolli, malah ketemu temanku yang tadi lagi, daripada makin salah paham ku kenalkan saja. “Ini istri temanku…” ucapku pada istri dan teman kuliahku.

Akhirnya tiba di kasir, ku balik lagi menuju temanku yang ada di depan. Karena istrinya butuh tanda-tangan untuk tagihan belanja. Alhamdulillah selesai sudah tugasku, sendirian sambil menyeruput bansus yang tadi belum tersentuh ku melemparkan pandangan ke arah jalan. Cukup lama ku berada didepan sendirian, sampai habis bansus ini. Barulah temanku menyusul, dan mengajak untuk pulang. Tadinya pun ku mau langsung pulang, karena sudah lengket sekali ini badan. Tapi sekali lagi karena merasa tidak enak, melihat belanjaan yang demikian banyak harus di bawa oleh satu motor, hal yang tidak mungkin. Akhirnya ku membantu membawakan sebagian belanjaan, sudah dua motor saja masih cukup kesulitan untuk membawa belanjaan sebanyak itu. Kembali ke rumah temanku, alih-alih menitipkan anaknya di rumah mertua, ternyata mertunya sudah ada di rumah temanku, karena anaknya yang kecil merengek nangis minta pulang. Ku tidak mau berlama-lama lagi, setelah menurunkan dan membawakan beberapa belanjaan ku langsung pamit pulang. Tapi tetap saja, temanku meminta untuk makan dulu, ku bilang saja radang tenggorokan ku lagi kambuh dan memang tidak enak sama penhuni rumah. Istri temanku bilangnya “pokoknya nanti..jum’at depan harus ke sini yah..”, temanku juga malah menimpali “Awas..jum’at depan mampir looh”..
“Iyee..insyaAlloh” jawabku sekenanya.

Dengan terburu-buru, ku langsung tancap gas meluncur pulang bersama reva. Dengan pegal yang menjalari, badan pada lengket semua karena belum bilasan. Akhirnya setelah sampai gubuk-reot, ku langsung saja bebersih dan sholat isya’. Kemudian komat-kamit di atas kasur yang sudah tidak empuk, karena besok shubuh ku harus meluncur lagi melakukan perjalanan ke kontrakan kecilku. Hari yang indah dan melelahkan. Tanpa bilasan, ku tertidur pulas dipeluk belaian sang mimpi malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s