pelangi di curug nangka


sedikit berbagi, begitu berarti…

curug-nangka

curug nangka di kawasan TNGHS

Setelah hampir seharian sabtu kemarin ku istirahat, gara-gara perjalanan di jum’at  yang penuh dengan gejolak. Akhirnya minggu pagi, ku kembali meneruskan hasrat untuk nge-bolang lagi. Dengan rencana bahwa ku akan meluncur ke curug nangka, ku menyiapkan perlengkapan dengan seadanya. Tas slempang kumal berwarna ijo yang kubeli sekitar 3tahun lalu di daerah Yogyakarta menemani dalam perjalananku. Tak lupa ‘kenzo’ selalu menjadi teman dokumentasi dalam setiap aktivitas apa pun.

Pagi itu sekitar jam 08.30, ku mulai meluncur bersama reva dari gubuk-reot. Biasanya nge-bolang hanya berdua saja dengan reva, tapi kemarin ke rumah temanku untuk menjemputnya terlebih dulu (cwok lho), alhamdulillah pagi itu cerah untuk memulai aktivitas dengan senyum mengembang, walaupun radang tenggorokan ini sedikit mengganggu tak menjadi soal buatku. Perjalanan ke rumah temanku sekitar 30menitan, dari lokasi curug nangka tak jauh, hanya membutuhkan waktu 15menit saja untuk sampai.

Perjalanan yang membuatku berdecak kagum dan berkali-kali mengucap tasbih, alam ini memang indah. Setelah 15menit akhirnya, kami bertiga (aku, reva dan temanku) sampai di depan gerbang pintu masuk. Terlihat tulisan “selamat datang di kawasan taman nasional gunung halimun salak wisata curug nangka”, kami membayar 18rb. Setelah itu berjalan lagi sekitar 5 menit untuk sampai di lahan parkiran yang sudah disediakan. Pagi ini masih terlihat belum ramai, tapi entah kalau sudah siang.

Parkirpun dilakukan setelah bayar lagi 2rb, dengan mengunci reva seadanya. Kita (aku dan temanku) melanjutkan perjalanan untuk sampai di lokasi curug nangka. Melewati jembatan kecil, lalu jalan kaki di awali dengan suguhan pohon-pohon pinus dan cemara yang menghampar, terlihat hijau di sana sini. Bersamaan dengan berucap tasbih, ku mengambil foto dengan ‘kenzo’. Walaupun suasananya tidak terlalu dingin, tapi cukup sejuk untuk berlama-lama di tempat tersebut. Hamparan hijau di kanan kiri menjadi teman setia yang mengikuti, sesekali ada undakan-undakan batu yang menurutku cukup indah. Jalan setapak yang kian lama terasa kian menanjak, kembali ku terdiam di atas sebuah undakan. Melemparkan pandang ke segala arah, sekedar berdiskusi dengan alam. Tak henti-hentinya tasbih mengalir dari bibirku, mengagumi ciptaan Sang Maha Kuasa.

Jalan setapak itu sedikit licin, kadang naik lalu sedikit turun. Ada beberapa alternatif untuk sampai ke curug nangkanya, ada jalan setapak yang pada umumnya orang lewati ada juga jalan setapak lewat pinggiran atas bukit yang sebagian orang saja lewat situ. Ternyata kami melewati jalan yang kedua, bukan karena kami sombong, memang pertamanya kita yang salah jalan. Alih-alih untuk menghindari jalan yang banyak dilewati orang. Malah lewat jalan yang rada sukar untuk di tempuh, batuan terjal di sana-sini.

Tapi dari atas sini, kita bisa melihat orang-orang yang berada di bawah kita. Di tengah perjalanan, sesekali disambut oleh gemericik air yang mengalir. Aliran yang begitu indah, jernih seakan belum pernah terjamah. Ada satu ‘kubangan’ air yang digunakan anak-anak untuk berenang ataupun hanya bermain air. Warung-warung tenda yang jumlahnya dapat dihitung, berada di pinggiran bukit. Padahal sudah ada himbauan dari pemerintah, setidaknya itu yang ku baca dari beberapa papan pengumuman, karena memang rawan banjir dan longsor sehingga dilarang berjualan di kawasan ini. Tapi, tetap saja berjualan, apakah pemerintah yang nutup mata ataukah pedagang yang tidak tahu resikonya? Asalkan uang setoran lancar, dagangpun di halalkan.

Berjalan kaki kurang lebih 500 meter (kalau ditarik garis lurus), lumayan menyenangkan. Sebentar lagi sampai, dari kejauhan ku dapat melihat curugnya. Terlihat kecil dan tidak deras air, maklum mungkin bukan musim penghujan, tapi tetap saja membuatku tenang melihatnya. Kelelahan kita terbayar, setelah kita sampai, langsung saja ku mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Bak photographer kacangan, ku memotret sana sini dengan posisi yang terlalu ku buat-buat. Dengan ‘kenzo’ beberapa foto sudah dihasilkan. Di bawah curug (air terjun), terciprat air yang dingin. Ku ayunkan dan ku benamkan kaki dalam air yang dingin itu, terasa benar-benar adem. Tanpa berlama-lama, ku membalikkan badan untuk berganti pakaian. Maklum cah ndeso ketemu air, pengennya langsung nyebur dan main air sepuasnya.

Di lokasi memang belum banyak orang yang datang, hanya segelintir saja. Itupun semuanya lelaki, ada sih yang berpasang-pasangan, tapi mereka di bawah sana dan di atas batuan terjal. Ku melirik temanku yang sedang sarapan nasi uduk  bersama penjual yang sudah dimakan umur dan tetap bersemangat mencari sesuap nasi untuk kelurganya. Nasi uduk dan gorengan di jual 5rb, lumayan untuk mengisi perut yang belum sarapan. Akhirnya selesai ku ganti baju, memindahkan tas serta barang lain ke atas sebuah batu besar. Temanku masih terlihat tenang dengan sarapannya. Ku langsung saja mencicipi air curug tersebut. Brrrrr, dingin dan segar sekali. Berada tepat di bawah derasnya air curug, serasa di hujami dengan beberapa tombak yang tumpul, kepala ini, punggung ini terasa geli-geli keenakan, tapi lama-lama malah jadi sakit karena debit air yang lumayan menghantam tubuh. Sesekali keluar dari hujaman air, pindah ke sebelah untuk berendam. Kemudian duduk,  di atas batuan kecil sambil selonjoran.  Menikmati pemandangan sambil ditemani pelangi yang nyata terlihat di sekitar jatuhnya air. Sungguh indah.

Tak lama kemudian temanku menyusul, ia pun sama terlihat asyik dan senang sendiri di bawah terpaan air curug yang mengalir. Kadang-kadang kita bergantian untuk mengambil beberapa dokumentasi, walaupun ‘kenzo’ basah, tapi tidak apa-apa yang penting sudah ada fotonya. Tidak tahu sudah berapa lama, kami berada di situ. Yang pasti kulit keriput, badan sudah gemetaran danmenggigil kedinginan. Tapi tetap ngeyel untuk nyebur lagi, baru kemudian setelah mulai terlihat ramai. Kita beranjak dari sana, berdiam diri di salahsatu warung tenda dekat situ, memesan secangkir kopi. Sambil menghangatkan badan di bawah sinar matahari yang mulai naik.


Di sela-sela kami ngobrol, ternyata terlihat di bawah sana gerombolan orang yang hendak menuju ke sini. Berbondong-bondong jilbaber beserta yang lainnya terlihat bersemangat untuk sampai di sini. Kebanyakan dari yang datang adalah orang-orang yang sebelumnya melalukan outbounddi dekat sini, itu terlihat dari baju mereka yang kotor oleh lumpur dan beberapa wajah yang tercorat-coret . Waktunya kita perginya rupanya, setelah menghabiskan secangkir kopi seharga 4ribu sembari mengeringkan ditengah hangatnya terpaan terik matahari. Akhirnya ku memutuskan untuk ganti pakaian duluan, setelah itu barulah temanku.

Tantangan belum berakhir, setidaknya kita harus menuruni jalan yang tadi kita lewati. Undakan batu terjal, jalan tanah yang licin berpadu dengan aliran air yang jernih membentuk semacam sungai-sungai kecil serta hamparan hijau pohon-pohon disekeliling kami. Benar-benar kombinasi indah yang nyaman dipandang mata. Subhanalloh, Maha Suci Alloh.

Dengan nafas masih tersengal, tiba di parkiran. Wow, ternyata diparkiran yang sebelumnya kosong alias tidak begitu ramai. Tiba-tiba serasa sempit, begitu banyak motor yang parkir, hampir 5 shaft berjajar dengan panjang sekitar 20an motor. Belum ditambah dengan beberapa mobil pribadi dan bus pariwisata. Agak kesulitanku mengeluarkan reva, tapi untungnya dapat keluar juga dari parkiran. Meluncurlah kami pergi meninggalkan curug nangka, ke tempat temanku terlebih dahulu untuk beristirahat. Karena perjalananku sendiri masih teramat panjang. Seiring kelelahan yang mendera, cerita ini kusudahi sampai disini saja, tapi masih ada lanjutannya.

Advertisements

5 thoughts on “pelangi di curug nangka

  1. Pingback: ayam lepaas dan istri temanku | sedikit berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s