matot di tengah kota


sedikit berbagi, begitu berarti…

frustrasi

illustrasi (heart-valve-surgery.com)

“Gilaaaa….!” umpatku dalam hati. Perjalanan jum’at (pulkam) ba’da maghrib kemarin benar-benar membuatku serasa remuk. Betapa tidak, setelah packing peralatan tempur, meluncurlah diriku dengan reva. Everthing goes smooth, until…sekitar 10 menit, dari start kontrakan kecilku. Peristiwa matot alias macet total pun tak disangka-sangka terjadi, ku terjebak dengan lautan manusia dan kendaraannya. Diriku yang hanya menyangka jebakan itu sekitar 10meter, ternyata 50meter pun masih ramai, 100 meter masih ramai juga, 300 meter terlihat ramai, ku rasa mungkin 500 meter saja , tapi ternyata kemacetan itu masih saja membelenggu setiap insan yang berada dijalanan. Kurang lebih di titik 1km, benar-benar tak bergerak sama sekali. Puncak dari segala puncak, dimana seluruh waras dan egoku saling memperebutkan posisi tertinggi, posisi untuk mengontrol atas tubuh ini. Bahkan dengan semut pun, kami kalah kalau kami berlomba saat itu juga, benar-benar kejadian yang tidak terduga. Mana tadi emang belum buka puasa lagi, maksudnya hanya di isi air saja, benar-benar kemacetan yang sangat-sangat membuatku dehidrasi.

Masih di titik 1km, hanya beranjak sekitar 20cm dari tempat semula. Banyak pengendara yang mematikan mesinnya, dengusan kecewa, raut wajah yang sedikit marah ditambah suara klakson yang membahana bagai alunan melodi yang fals menghiasi suasana malam yang penuh dengan ketidaksabaran. Berbagai macam pertanyaan dalam hati menguak, apa yang sebenarnya menyebabkan kemacetan parah ini? Tidak sedikit dari pengendara yang berbalik arah, untuk sekedar mencari dan menyusuri jalan pintas, tapi tidak sedikit pula yang hanya ikut-ikutan, padahal tidak tahu jalan tapi berharap dengan jalan pintas dapat terhindar dari hal tersebut.

Ku memutuskan untuk tetap sabar, melangkah dengan reva perlahan. Sesekali memperhatikan hiruk pikuk kanan kiri jalan, apa itu pejalan kaki yang begitu kesulitan untuk lewat ataupun sederet pengatur lalu lintas yang terlihat benar-benar depresi oleh situasi ini. Memang di akui bahwa, beberapa dari pengendara, entah itu motor, mobil pribadi ataupun angkot kadang-kadang malah menambah semrawut jalan dengan menyabotase hampir ¾ jalan. Sehingga kendaraan yang mengarah ke arah sebaliknya menjadi benar-benar kesulitan untuk sekedar melangkah. Saking padatnya, jadi mundur tidak bisa, maju pun tidak bisa, benar-benar dilema.

macet-parah

illustrasi (karawanginfo.com)

Hampir 30menit sudah waktu berjalan, kemacetan yang makin bertambah panjang sekitar 500meter itu pun sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang. Ku perhatikan tidak ada hal serius yang menyebabkan kemacetan itu, dugaanku terjadi kecelakaan ataukah truk/bus mogok yang dapat menghambat jalan yang memang sempit itu. Ternyata, dugaanku salah sama sekali. Begitulah, jalan sempit, volume kendaraan yang menjepit, menjadi habit yang teramat sakit lama-lama jadi penyakit yang pahit. Polemik dalam masalah lalu lintas yang sangat pelik. Benar-benar menjadi pekerjaan rumah buat para abdi-abdi kerajaan Indonesia.

Berjuang terlepas dari kemacetannya, sungguh sangat menguras mental dan tenaga. Terutama kesabaran. Dengan bermodalkan kesabaran, akhirnya malam itu sekitar 35menit barulah ku dapat benar-benar lepas dari belenggu dijalanan. Memacu reva dengan semangat, batas maksimal pun tercapai, terlihat euphoria dari para pengendara. Masing-masing berlomba dengan kecepatan yang dimiliki, seakan bersikukuh dengan kenyataan bahwa sang raja jalanan telah kembali bebas.

Kali ini ku bertarung dengan kesabaranku kembali, namun giliran ku yang kalah oleh ego dan warasku. Demi memuaskan nafsu, ku menggenjot reva benar-benar sampai titik didih yang tidak bisa didefinisikan, menjerit dengan nafas tersengal reva terus berlari. Tak kuhiraukan, sesekali bersengkolan dengan pengendara lain. Perang dingin antar pengendara tidak pernah lepas dari kehidupan dijalanan.

mie-goreng

illustrasi (asri78.wordpress.com)

Sepanjang perjalanan, tubuhku seakan sudah bertemu dengan batas kebugaran. Terasa ambruk tak berkutik di lindas kejamnya jalanan. Hampir 2 jam lebih, akhirnya ku baru sampai di gubuk-reot, setelah sebelumnya ku mampir sejenak di tukang mie goreng, untuk teman buka puasa. Dibungkuslah mie tersebut, sampai di gubuk-reot seperti biasa bebersih hal yang pertama kali ku lakukan, istirahat sambil ngobrol sebentar dengan penghuni rumah. Lalu mencubit mie goreng sedikit-demi sedikit sambil melirik acara kick andy, tak lupa cubitan mie goreng tersebut ku campur dengan segenggam nasi putih.

Diriku yang tadi dehidrasi, lalu minum seperti orang kerasukan. Minum tanpa bernafas, satu gelas, dua gelas, sampa tiga gelas lewat begitu saja. Terasa segar di tenggorokan, terasa nyaman di hati. Ironisnya ternyata tubuhku memberi isyarat bahwa ia memerlukan waktu yang sedikit panjang buat istirahat. Akhirnya setelah cubitan terakhir mie goreng bersama kick andy, ku lanjutkan aktivitas di atas kasur yang tak lagi empuk. Kembali menerawang apa yang sudah terjadi, sesekali berucap syukur dan tak lama kemudian terhanyutlah diriku terbawa mimpi. Mimpi yang membelaiku dengan pekatnya malam dan rayuannya pada sang bulan, benar-benar membuatku hilang kesadaran. Dalam lirihku berkata, “selamat malam reva, semoga kau bisa beristirahat dengan tenang malam ini, terima kasih.”

Advertisements

9 thoughts on “matot di tengah kota

  1. Pingback: malam minggu yang indah « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s