ingat yang 5


sedikit berbagi, begitu berarti…

ingat 5 perkara sebelum 5 perkara

illustrasi (mobavatar.com)

Sholat jum’at kemarin saia merapat di mesjid ‘aki-aki’. Sholat jum’at dengan suasana shaft depan, kebanyakan sudah berumur ‘senja’ semua. Kadang-kadang kasihan sekaligus salut melihatnya, apalagi yang adzan. Haduuh, dengan suara yang hampir habis, serak (kadang berhenti) beliau pun masih memiliki semangat untuk beribadah. Shaft dua sampai kelima (kalau tidak salah) jarang-jarang penghuninya, sedangkan untuk shaft belakang, barulah terlihat keramaian dari beberapa jama’ah.

Jama’ah hanya akan mengisi shaft depan, ketika pengurus DKM memberikan beberapa informasi yang berkaitan dengan sholat jum’at dan menghimbau untuk menonaktifkan alat komunikasi serta mengisi shaft-shaft kosong didepannya. Walapun sudah dihimbau, masih tetap saja ada beberapa yang ngeyel , hal ini terlihat dari shaft depannya yang masih kosong dan kadang-kadang ketika khotib atau sholat jum’at bahkan ketika baru saja selesai sholat, masih saja ada handphone yang bunyi. Bagi saia agak sedikit risih, wong dah di kasih tahu sama khotib disuruh silent atau nonaktifkan, eh..masih saja. Hal kecil seperti itu juga dapat mengganggu kekhusyu’an orang yang sedang khusyu’ dalam sholatnya. Apalagi kalau ada anak-anak yang ribut, bercanda sambil berlari-lari… Wah, komplit dah godaannya.

Kembali ke sholat jum’at, biasanya saia selalu mencatat apa yang sedang disampaikan khotib, entah itu untuk saia pribadi ataupun sekedar menyampaikan kembali sama orang lain. Namun, kali ini saia tidak melakukannya. Setelah beberapa waktu yang lalu, saia berdiskusi dengan teman yang ilmunya lebih di atas saia, dan ternyata yang saia lakukan itu takut termasuk dalam kategori ‘lagow’ (saia tidak tahu lafalnya). Lagow ini perkara yang mempengaruhi sholat jum’at kita. Karena menurut saia masih ‘abu-abu’ tentang hal itu, lagipula saia terlalu sering menyelesaiakan masalah dengan nalar atau akal. Lebih baik, saia tidak lakukan. Saia belajar untuk mengingat apa yang sudah disampaikan khotib, walaupun saia tidak ingat pasti mengenai dalil ataupun dasar sebuah pokok dalam khotbah jum’at, intinya dasarnya saja.

Khotib di mesjid ‘aki-aki’ itu membahas dan mengingatkan kita tentang 5 perkara. Daripada saia sok tahu dengan ilmu yang masih sangat terbatas, akhirnya saia coba ambil dari facebook tentang “Lakukan 5 perkara, sebelum datang 5 perkara”, berharap mudah-mudahan dapat di ambil manfaatnya.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”

Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.” 

Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”

Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: ”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.”

Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Mudah-mudahan ini jadi pengingat selalu dalam kehidupan-kehidupan yang masih dan akan terus kita jalani. Perkara yang lima ini lebih kepada managemen waktu, betapa penting dan berharganya waktu. Karena waktu yang sudah lewat begitu saja, tidak bisa kembali lagi. Jadi, hargailah waktu, insyaAlloh waktu akan menghargai kita.

Wallahu a’lam

Mesjid Al-Barkah
Lebak Bulus

Advertisements

3 thoughts on “ingat yang 5

  1. Pingback: selamat berkendara « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s