surabi duren di senja hari


sedikit berbagi, begitu berarti…

terik-matahari

illustrasi (detik.com)

Sabtu kemarin, akhir weekend. Menghabiskan waktu bersilahturahmi ke beberapa teman dan sekalian menawarkan beberapa ‘dagangan’ dengan cara sedikit ‘memaksa’ agar dibeli. Janjian di mesjid tengah kota kelahiranku, Al-Hijri. Untuk ‘ashar di sana. Berangkat setengah jam sebelum waktu ‘ashar, dimana matahari masih sangat terik dan menyengat langsung sampai ubun-ubun. Sahabatku reva, tak lupa selalu menjadi teman perjalanan ini. Akhir pekan itu benar-benar sangat panas, gerah ditambah kemacetan dimana-mana. Lampu merah dan para pengatur lalu-lintas seakan redup oleh sengatan matahari yang kian menusuk kulit. Semuanya tak beraturan, mesjid yang kutempuh kurang dari 10km. Sehingga akupun santai saja, karena harus membawa ‘dagangan’ku ini dengan hati-hati agar tidak rusak.

Tiba di lampu merah, berbagai jenis kendaraan mulai berhenti sejenak, berbagai plat nomer luar daerah berseliweran, mungkin masih dalam rangka libur panjang. Berbagai atribut lekat oleh masing-masing pengendara, ada yang bergerombol atau yang sering disebut touring, ada yang berpasang-pasangan dan banyak juga yang sendiri-sendiri. Dibawah terik matahari yang begitu menyengat, seakan mereka tidak perduli karena semangat untuk berlibur mereka lebih besar dari apapun. (setidaknya menurutku)

Lampu hijau, semua kendaraan bagai menyembul dan menggerogoti setiap sudut jalanan yang ada. Saling berpacu, berbenturan emosi pun tidak terelakkan, begitulah keadaan di jalanan. Pura-pura menutup sebelah mata, aku berjalan dengan perlahan, sampai ku tiba di salahsatu paru-paru ranah kelahiranku. Benar-benar sejuk, adem, pohon-pohon hijau besar berdiri berjajar di sepanjang jalan. Jalan yang paling teduh diantara yang paling teduh, sesekali tampak kilauan matahari yang menyelusup masuk ke sela-sela daun serta batang pohon besar itu, membentuk suatu siluet yang harmonis dengan warna hitam-kehijauan. Begitu nyaman berada di jalan ini, sampai tidak terasa bahwa sebenarnya matahari masih mengintai dengan pasukan panasnya, hingga akhirnya tidak lama ku melewati tujuanku.

Bukan tanpa sengaja ku melewati tujuanku, hanya karena ingin berpapasan dengan asinan. Ya, entah kenapa saat itu tiba-tiba terpikirkan untuk menyambangi asinan. Lurus terus sekitar 500 meter dari mesjid Al-Hijri, tepat di belokan lampu merah pertama, ada sederet penjaja makanan, salahsatunya asinan itu. Liurku mengalir sudah melihat asinan tersebut, tapi sayang ku tidak jadi membelinya, lagian tempatnya rame sekali. Nanti saja ku tawarkan sama temanku itu. Akhirnya kembali mesjid Al-Hijri yang tadi sempat terlewati.

mesjid-alhijri

illustrasi (csrc.or.id)

Tiba di mesjid Al-Hijri, duduk di serambil mesjid sambil menunggu waktu ‘ashar tiba dan temanku datang. Sesekali memperhatikan jalan dengan berbagai aktivitasnya, juga tukang ‘pangsit’ dan lalu lalang beberapa jama’ah yang datang. Tak terasa, adzan ‘ashar pun berkumandang. Barang ‘dagangan’ dan tas slempang ku sisihkan sementara di meja penitipan. Sehabis wudhu, berhubung tidak ada petugas penitipan barang akhirnya ku bawa saja ‘dagangan’ku dan tas ke dalam mesjid.  Sekilas, ada tulisan di pintu masuk mesjid:

“Jaga dan perhatikan barang bawaan anda, ingat tidak semua yang masuk mesjid mau beribadah”

Tulisan itu bukan tidak ada sebab, beberapa waktu yang lalu. Ketika ku mau sholat isya, beberapa jama’ah yang bawa tas atau barang lain menyimpan dan menumpuknya bersama-sama di belakang shaft. Tapi apa yang terjadi, ketika selesai sholat, ada salahsatu jama’ah yang kehilangan tasnya dan sudah dituker oleh ‘oknum’ yang tidak bertanggung jawab. Wal hasil, ia pun melaporkan ke pihak DKM, Alhamdulillah ternyata mesjid tersebut  sudah di lengkapi CCTV. Jadi, mudah-mudahan ‘oknum’nya dapat ditangkap dengan melihat rekaman dari CCTV tersebut. Aku pun merasa kasihan terhadap korbannya, di dalam tasnya tersebut berisi barang-barang berharga, salahsatunya kunci motor. Sehingga ia pun tidak bisa pulang. Mudah-mudahan kita tetap waspada dimanapun kita berada.

Selesai sholat ‘ashar, ternyata temanku juga sudah datang. Mulai kita ngobrol-ngobrol di serambi mesjid yang tadi, dari ‘dagangan’, pekerjaan, skripsi, khitbah, tawassulan, rajab sampai makanan pun kita bahas. Tadinya sepulang dari mesjid ku menawarkan untuk mencicipi asinan, tapi ternyata temanku sedang batuk. Dan memberi ide untuk nge-bansus, waah..ide bagus pikirku. Sekalian kita mau mencicipi surabi duren. Ya, walaupun kita tahu bahwa akhir pekan ini tidak jauh dari kemacetan. Kita hadapi saja.

Meluncur dari mesjid ke tempat surabi sebenarnya mungkin hanya 15 menit dengan motor, tapi karena macet yang begitu menguras kesabaran, kita sampai 30menit kemudian. Di tempat surabi yang biasa ternyata sangat-sangat rame sekali, temanku malas. Sekali lagi, ia menawarkan makan surabi di tempat yang tadi kita lewati. Putar arahlah kita, setelah sampai di tempat surabi. Sangat kontras, di tempat yang satu rame banget, sedang disini sepi banget. Aneh. Tapi tidak apa-apa, kitapun memesan surabi duren-keju, surabi duren-coklat dan sepasang bansus (bandrek-susu).

Percaya atau tidak, ternyata setelah kita datang ke situ. Akhirnya banyak juga yang ikut datang dan memesan surabi-duren dengan berbagai variasi rasa. Tak lama, pesanan kami pun datang, surabi duren-keju tersaji manis di depanku berikut bansus. Surabi yang menggiurkan, tanpa menunggu lama ku potong kecil-kecil dan melahapnya dengan pelan. Hmm, Alhamdulillah..enak banget surabi duren-kejunya. Walaupun tempatnya yang semula sepi, ternyata soal rasa, tidak jauh beda. Sedangkan temanku melahap surabi duren-coklat yang juga perlahan tapi pasti. Bansusnya pun rasanya mantaabs, tidak terlalu pedas oleh jahe, juga tidak terlalu manis karena susu. Pas banget, tapi sayang gelas bansusnya tidak berukuran jumbo. Akhirnya tidak sampai 15rb per orang untuk surabi dan bansus yang kami bayar.

Selesai makan surabi duren di senja hari menjelang maghrib, kami pun meluncur ke Masjid Raya untuk sholat maghrib berjama’ah. Mesjid yang terletak kurang dari 500mtr dari surabi-duren tersebut menjadi tempat perpisahan kami, ba’da maghrib kita berdua pulang ke rumah masing-masing. Temanku membawa ‘dagangan’nya, sedangkan ku tidak ada bawaan lagi (‘dagangan’ku berpindah tangan). Hanya kemacetan yang semakin menguji kesabaran kamilah yang tinggal kami hadapi sebelum sampai rumah masing-masing.

Advertisements

15 thoughts on “surabi duren di senja hari

  1. Pingback: reva dan gadis cantik « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s