mendidihnya sahabatku


sedikit berbagi, begitu berarti…

liburan

illustrasi (oliviapandora.blogspot.com)

Biasanya setiap ba’da maghrib di hari jum’at, ku pasti meluncur pulkam bersama sahabatku reva. Tapi tidak dengan kemarin. Suasana dan hawa libur panjang sudah begitu menjerat dan mencabik hati dan pikiran dari kali pertama senin. Tapi, entah kenapa ku sendiri tidak begitu aware dengan liburan kali ini, untuk lebih memastikan bahwa memang benar-benar libur panjang, ku menanyakan pada atasan dikantor dan ia pun meng’iyakan bahwa libur panjang kita dapatkan. Ku pikir, jarang sekali kita libur biasanya juga cuma sehari doank, tapi toh tidak rugi juga liburan. Ku bisa beristirahat dengan sepuasnya.

Rabu malam, ku berencana mulai ‘gerilya’ di medan perjalanan bersama reva menuju gubuk-reot. Ternyata, niatku aku urungkan. Dengan beberapa pertimbangan bahwa perjalanan libur panjang ini bakal banyak menyedot seluruh tenaga, emosi juga warasku. Karena hampir di pastikan bahwa kemacetan yang tidak terbayang akan menghampiri setiap pengendara, debu polusi yang mengepul, teriakan-teriakan frustrasi orang yang kalut, arogansi para joki kendaraan berkilometer akan menjadi rintangan yang cukup panjang dan malam yang tidak bersahabat menjadi bumbu yang pedas buat setiap orang di lintasan jalan raya. Berbondong-bondong bagai kumpulan semut yang padat merayap, melakukan pulkam di waktu dan tempat yang sama, tidak ada ruang gerak sama sekali, hanya kesabaran yang menjadi kunci dalam pergulatan di jalan.

Akhirnya, ku membatalkan perjalananku di rabu malam. Memilih beristirahat sejenak menghabiskan malam di kontrakan dan akan melakukan ‘kudeta’ ba’da shubuh. Sebelumnya semua perlengkapan tempur yang ada sudah kupersiapkan, sebuah  ‘gembolan’ berat, helm ‘OBLO’ dan sepatu baja, baju zirah besi, masker anti ‘huru-hara’ dan sepasang sarung tangan ‘cyborg’ serta tak lupa ‘kenzo’ untuk merekam semua yang terjadi.

Shubuh pun tiba, dengan terbata-bata ku belajar khusyu’ di setiap sholatku. Ba’da shubuh, dengan cekatan dan sigap ku mulai mengenakan semua atribut ‘perang’. Semua atribut, tak terkecuali, karena bagiku jalan raya merupakan medan pertempuran yang sangat keras. Diperlukan persiapan yang benar-benar matang dari sahabatku reva ataupun mental ku sendiri.

Mataharipun belum menampakkan wajahnya, masih duduk terdiam di ufuk timur. Kemudian, keluar dari kontrakan kecil  lalu memapah reva keluar pagar. Dengan atribut yang melekat, akhirnya ku mulai ‘menendang’ reva, karena electric-starternya masih belum kuperbaiki. Berjalan perlahan, memperhatikan beberapa orang yang sedang melakukan jogging, suasana yang segar sekali.

mendidih

illustrasi (pixabay.com)

Lambat-laun mulai meninggalkan daerah kontrakan kecilku. Benar saja, jalanan di shubuh hari ini masih terlihat lengang, sepi dari ramainya lalu-lalang ‘bebek’ dan ‘kuda’ serta kendaraan lain. Seperti kota mati, di pinggiran jalan semua toko ataupun sekedar penjaja makanan bagaikan tertelan bumi, minim sekali tanda-tanda kehidupan. Beberapa bebek juga kendaraan yang ada tidak  menyia-yiakan kesempatan itu, memacu tiap kendaraannya bergerak sampai titik ‘didih’. Ibarat track perlombaan balap, semua memacu dengan kecepatan yang sekehendak-hatinya, menjadi juara satu dan berdiri di atas podium kemenangannya masing-masing. Namun sayang, kadang cara yang digunakan tidaklah selalu ‘aman’ buat kendaraan yang lain. Dapat menimbulkan gesekan, benturan terhadap kesabaran yang ada.

Aku adalah salahsatu korban dari benturan tersebut, dengan ikut memacu hingga serak suara reva karena titik ‘didih’ kecepatan diluar batas normal. Berkali-kali melewati bebek lain di depanku, berkali itu pun bebek, kuda lain serta badak yang tidak bercula menghempasku dari belakang dan melewatiku begitu saja. Terdiam sejenak, kutahu titik ‘didih’ sahabatku reva. Ku tidak akan memaksakanmu. Namun, apa daya kadang kewarasanku terenggut oleh kerasnya hempasan dan cacian dari kendaraan lain. Sedikit memaksa, ku kembali ‘mengenjot’ sahabatku. (maafkanku)

Sepanjang jalan dan mataharipun dengan tersipu malu, mulai beranjak naik dari tempatnya. Sedikit demi sedikit tanda-tanda kehidupan pun mulai nampak dan terlihat jelas di kanan kiri jalan. Para penjaja dagangan mulai berdatangan untuk mengais rezeki, hanya sebagian saja toko-toko buka. Efek dari tanggal merah, imbas dari hari libur. Dimana dapat diperkirakan bahwa masih banyak yang bermalas-malasan, kecuali bagi mereka yang berjuang sedikit lebih keras untuk hidupnya.

malas-malasan

illustrasi (renunganhidup.com)

Jalan-jalan yang sepi seakan menambah cepat laju reva berlari di lintasan, tak terasa ranah kelahiranpun terjamah sudah. Waktu yang biasanya ditempuh sekitar dua jam, kemarin hanya satu jam lebih ku berhasil menginjakkan kaki di gubuk-reot, alhamdulillah dengan selamat. Saatnya kau beristirahat reva, mendinginkan ‘mesin’mu yang mendidih dan melepaskan seluruh pegal yang menjalari tubuhmu. Aku pun sama, kelelahan yang mencekik dan otot yang terasa kelu, pegal oleh perjalanan ini. Mandi dan ‘bebersih’ dilanjutkan dhuha. Kemudian istirahat sambil tetap shaum hingga menunggu waktu maghrib tiba. “Alhamdulillah, Ya Alloh beri keberkahan di segala aktivitas-aktivitas kami”. Aamiin.

Advertisements

4 thoughts on “mendidihnya sahabatku

  1. Pingback: malam minggu yang indah « senitea's blog

  2. Pingback: reva dan gadis cantik « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s