[bukan] nasgor gila


sedikit berbagi, begitu berarti…

not-sign

illustrasi (lauralowell.com)

Ba’da maghrib, ku mulai keluar dari rutinitas ngantor, menyusuri jalan sekitar komplek perumahan diiringi oleh dekapan sinar bulan yang hangat begitu harmonis dengan bintang-bintang yang tersenyum. Malam tadi, ku berniat untuk makan nasi goreng di tempat biasa disebrang sebuah mesjid besar. Biasanya kalau makan disana pasti ku pesan capcay, tapi entah kenapa tadi malam memang ingin sekali makan nasi goreng, akhirnya dengan berjalan kaki dari pulang ngantor, telaten ku menyisir pinggiran jalan komplek sampai tembus ke jalan raya.

Sebenarnya rute yang ku ambil ini adalah jalan memutar, dapat diibaratkan kalau  ditarik garis lurus jarak antara kantor dengan nasi goreng mungkin hanya sekitar 600meter, tapi berhubung ini jalannya memutar sehingga jarak yang ditempuh pun rada sedikit jauh, yaitu hampir satu kilometer. Itung-itung jalan 10rb langkah.

Ditengah jalan, sesekali mobil atau motor membunyikan klaksonnya padaku. Posisiku memang di pinggir jalan, karena memang tidak ada tempat khusus untuk pejalan kaki. Walaupun berjalan dipinggir, tetap saja memberikan sedikit gangguan kecil buat mereka ‘raja-raja’ dijalanan yang diburu ‘waktu’.

pohon

illustrasi (vi.sualize.us)

Pohon besar, berdiri angker disetiap jalan yang kulewati, bersebrangan dengan rumah-rumah yang sepertinya tak berpeng-‘penghuni’, sesekali tampak bayangan-bayangan tidak jelas berseliweran. “Mungkin bayanganku sendiri atau mungkin bayangan yang tersesat karena ikut tersapu angin malam, entahlah” batinku meracau.

Angin malam itu, memang tidak setajam seperti biasanya menghujam setiap bagian tubuh dari orang yang  berada di luar rumah. Melainkan, cukup bersahabat. Benar-benar ku nikmati, berjalan kaki seperti itu. Bulir-bulir keringat kecil mulai bercucuran.

Dengan sedikit kaget dan kecewa, dari jarak yang tidak sedikit jauh ku dapat melihat ternyata tukang nasgornya tidak jualan. Kecewa sudah rasanya hatiku, sudah berjalan lumayan gini, yang diinginkan ternyata malah tidak jualan. Ya sudahlah, dengan berat hati ku meneruskan jalan kaki yang memang sudah  masuk di jalan raya, jalanan begitu padatnya. Berbagai macam kendaraan dan ukuran menjejali setiap inci dari jalan raya yang begitu sesak.

bingung

illustrasi (placesdonkey.com)

Berjalan perlahan, sambil memikirkan menu pengganti yang gagal. Melewati rupa-rupa ‘panganan’ seperti pecel lele, pecel ayam, bakso, mie ayam, mie aceh, sate, cwie mie, sop iga, sampe warteg dan warudangpun ada. Tadinya mau mampir ke warudang, tapi kupikir bukan saat yang tepat. Ku masih ingin makan nasgor. Teringat bahwa di pertigaan sebelum kontrakan ada yang jual nasgor, yaah..walaupun harus merogoh saku sedikit lebih dalam, tidak apa-apa. Jalan kupercepat dengan nafas yang tersengal-sengal. Beribu-ribu debu jalan dan polusi asap kendaraan ikut menyapa indra penciumanku. Tak kuperdulikan lagi.

Tepat berhenti didepan tukang nasgor, ku terdiam sejenak. “Benar-benar sudah gila, makan nasi goreng yang ‘gila’, tentu akan membuat otakku makin tidak waras saja”. Ya, kuhanya berlebihan, toh mas tukang nasgornya kulihat masih waras dan normal, lagian kalau gila gak mungkin juga dia jualan, cuma tulisan di gerobaknya aja “Nasi Goreng Gila”.

Duduk di kursi plastik yang tengahnya bisa menjempit alias sudah robek, sambil memperhatikan mas tukang nasgor, di belakang ku ada dua orang pasangan, entah itu suami-istri atau sekedar teman, gak pentinglah buatku. Di sampingku ada supir taksi yang sedang makan. Mas tukang nasgor sibuk dengan bumbu gila yang sedang ia siapkan, ku teliti melihat aksinya itu, berbagai macam bumbu coba ku telisik apa itu, karena sebagai konsumen makanan kalau bisa jangan ‘asal’ makan saja,  sebagai umat islam itu yang terpenting makanannya halal, mulai dari proses membuat, alat yang dipakai sampai bumbu-bumbu yang digunakan. Maraknya makanan yang asal ‘jadi’ menjadi perhatian sekaligus cambuk buat kita, jangan jajan sembarangan. Tapi, tentunya tidak semua pedagang melakukan kecurangan itu. Waspada perlu, husnudzon apalagi.

nasgor-gila

illustrasi (kaskus.us)

Setelah supir taksi selesai makan dan pergi, ku berpindah ke tempatnya. Sambil menunggu dan membelakangi dua  pasangan itu. Ada dua orang lagi yang datang, “waah..rame juga tempatnya” pikirku. Tidak lama, pesananku datang, nasi goreng yang tidak gila, karena kutakut kalau makan nasi goreng gila maka kegilaan dalam hatiku tidak akan pergi. Nasi goreng tersaji diatas piring merah dengan sedikit acar dan kerupuk disampingnya, nasi goreng tersebut tidak terlalu kentara dengan kecap, sehingga warnanya pun pas dengan kombinasi coklat kecap dan putih nasi yang lumayan menarik. Dibalut dengan toping ayam suwir dan abon sapi sesekali menyembul beberapa potong baso. Dengan rasa ‘sedang’, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pedas. Entah, mungkin memang ku sendiri yang sedang lapar, sehingga semuanya terasa begitu nikmat. Di awali dengan bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah,  ku menyudahi proses yang sakral itu.

Ternyata disela-sela makan, teman-teman dua pasangan itu pun berdatangan, kurasa mungkin kantornya  berada disebrang jalan itu. Lalu, ku pun pergi setelah sebelumnya bayar sama mas tukang nasgor, kembali jalan kaki kurang lebih 300mtr, sampai juga di kontrakan kecil. Beristirahat sejenak, mengeringkan baju yang sedikit basah oleh keringat. Lalu kemudian, menjemput mimpi dalam buaian tidur malamku.

Advertisements

2 thoughts on “[bukan] nasgor gila

  1. Pingback: dari teh manis hingga ke dubai | sedikit berbagi

  2. Pingback: lamongan atau surabaya « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s