pasukan air hujan dan dua raksasa


sedikit berbagi, begitu berarti…

warcraft

illustrasi (wallpaperstock.net)

Jum’at itu, setelah ba’da maghrib jadwalku ‘pulkam’. Merapikan berbagai peralatan tempur yang biasa dibutuhkan dalam berperang di medan jalan raya, baju zirah, sepatu besi dan sarung tangan besi, sebuah black-helmet kebanggaan bertuliskan “OBLO” singkatan “Organisasi Bocah Lali Omah” menegaskan kontroversi hidup sebagai seorang pengendara. Beberapa peralatan tempur lain, masuk semua dalam gembolan ‘backpack’, menggembungnya gembolan menggambarkan betapa penuh isinya.

Setelah semua peralatan yang rentan air, ku balut satu-persatu dengan kantung plastik,
mengingat sepertinya langit malam itu terlihat sedikit murung, sesekali kilat bersahutan diikuti suara gelegar petir. Ku harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. “Peralatan sudah komplit…waktunya meluncur” ucapku dalam hati.

Keluar dari kontrakan kecilku, kumulai memapah reva melangkah meninggalkan pintu kontrakan. Sebelumnya sudah kupamitan pada pemilik kontrakan, kuucapkan “bismillahirrohmaniirohim, semoga ku sampai gubuk-reot dengan selamat, aamiin” lirihku dalam hati.

Mengayuh reva, bebek besiku yang kini suaramu parau dan serak, entah itu dimakan usia atau aku yang kurang merawatmu. Ditambah matamu kini tak lagi terang seperti dulu, bersinar semu menyiratkan begitu kelelahan terhadap silaunya dunia yang tak bersahabat. Starter otomatismu pun kini redup seiring lemahnya sumber tenaga pada dirimu, ku harus ‘menyentak’, ‘menginjak’ dan menendangmu baru kau mau berjalan, maaf sahabat kuharus melakukan itu.

Entah kenapa, perjalanan kali ini seperti tidak terlalu mengisap rasa kangenku pada gubuk-reot, rasa kangenku pada si gude ‘adikku yang paling kecil’. Ku tidak berhasrat untuk sampai buru-buru, terlalu santai malah, mencoba benar-benar menikmati setiap sudut jalan yang akan ku lewati. Dalam perjalanan kali inipun, kemacetan yang biasa terjadi seakan menguap dengan nafasku yang terbalut masker. Jalan seakan tidak seramai perjalanan jum’at kemarin, apakah kemacetan ini mengerucut pada satu titik tempat yang akan kulewati?. Tak perduli sudah, reva dengan kecepatan sedang terus melaju sambil sesekali mengerem karena bebek atau gajah-gajah berhenti mendadak. Keremangan malam, sungguh berpadu dengan kerlap-kerlip lampu jalan, berwarna jingga, putih, kekuningan semua berbaur jadi satu irama lampu yang menarik.

4golongan

illustrasi (facebook.com)

Dalam perjalanan, kuberulang kali berurai airmata, bukan karena pedihnya asap timbal dan pekatnya polusi yang menyeruak masuk ke dalam helm besiku, bukan pula angin malam yang tajam menghujami ku dengan derasnya. Tapi, karena kuteringat salahsatu postingan teman dijejaring sosial mengenai ‘tangan-tangan yang menarik kita dari neraka’, digambarkan bahwa sebagian golongan laki-laki akan ditarik masuk oleh wanita. Siapa golongan itu? antara lain ayah, suami, sodara laki-laki dan anak laki-laki. Golongan yang tidak amanah dan tidak memberikan hak kepada wanita serta tidak dapat memerankan perannya dengan baik.

Tidak kali ini saja ku berurai airmata. Setiap perjalanan, pasti ku berurai airmata, entah itu teringat karena terlalu banyaknya dosa yang menyelimuti hidupku ataupun karena ku yang sampai saat ini belum berhasil membuat kedua orangtua ku bangga. Istighfar dan dzikir selalu mengiringi setiap langkahku selama dalam perjalanan. Sesekali lantunan ‘memorial’ lagu nasyid, selalu berhasil membuat semangatku naik kembali.

Setengah perjalanan sudah ditempuh, tiba-tiba dari kejauhan ku melihat padatnya kendaraan yang menumpuk. Akhirnya saat ini datang, kemacetan yang sedari tadi tak kunjung menghinggapi, langsung merangkulku dalam balutan penuh ketidakwarasan. Sesekali bersenggolan dengan bebek-bebek lain yang mengerem dengan sekenanya, hampir satu kilometer rasanya kemacetan itu. Entah apa yang terjadi, ku benar-benar tidak tahu, sampai air hujan yang turun rintikpun tidak membangunkan ku dari ketidakwarasan ini. Rintik hujan yang kian lama makin bergerombol, membuat sebagian pengendara menyingkir sejenak dari lintasan hidup di jalanan. Tapi tidak denganku, langkahku semakin tak perduli dengan gerombolan titik-titik hujan yang membasahi seluruh badan reva dan ku sendiri. Kulihat biang-keladi dari kemacetan tersebut ringsek memakan setengah badan jalan, warna merah, tubuh raksasa, dengan ukuran roda dan jumlah roda yang melebihi ukuran truk normal, terkulai tak berdaya. Seorang ‘polipholi’ pun tengah sibuk mengatur lalu-lintas jalanan yang padat, basah oleh hujan.

Mungkin truk raksasa tersebut mengalami slip, karena memang kondisi medan jalan yang agak tidak bersahabat. Mudah-mudahan saja tidak ada korban. “Legaa, sudaah..akhirnya ku berhasil melewati titik kemacetan itu, tapi ternyata kesenanganku seketika buyar, sedikit terganggu dengan kemacetan tahap kedua. Ya, kurang 500 meter dari TKP ternyata hal yang sama terjadi pada sebuah truk raksasa, seperti beku dan menggigil tak bergerak  di bahu jalan, truk raksasa tersebut rupanya mogok, entah apa sebabnya, yang pasti jalanan padat tak karuan, bertarung dengan kewarasannya masing-masing. Ditambah kondisi jalan yang memang sedang di cor alias adanya pelebaran jalan, benar-benar cukup mengganggu buat kami pengendara.

Dengan sabar, akhirnya ku berhasil juga melewati rintangan yang kedua. Tak ayal, ku memacu langkah reva sedikit bertenaga lalu menghilang dari titik truk raksasa yang lemah tak terkulai tadi. Rintangan ketiga datang, tanpa disadari ternyata rintik hujan yang bergerombol pun berubah menjadi pasukan bulir air yang jumlahnya ribuan atau bahkan melebihi satuan yang dapat didefinisikan manusia. Pasukan bulir hujan dengan derasnya membuat beberapa pengendara akhirnya tumbang termasuk ku sendiri, sedikit meminggirkan reva untuk berhenti. Kemudian, ku pun melapisi baju zirah dengan pakaian khusus perang  melawan pasukan bulir air hujan, berwarna coklat dan ada garis yang dapat menyala, jubah itu mulai kukenakan.

hujan

illustrasi (snoron.com)

Jubah yang kebesaran itu pun, melindungi ku dari bulir-bulir air hujan yang deras. Pandanganku seketika menjadi kabur, tak paham dengan keadaan jalan yang berada didepanku, berbagai ‘mata terang’ dari arah bersamaan maupun berlawanan menembus
air hujan menjadi tanda bahwa semua pengendara harus benar-benar berkonsentrasi karena cuaca dan  medan jalan yang sesekali dapat menjadi lawan kita. Ku memutuskan untuk buka kaca helm, mengurangi kaburnya pandangan akibat dari derasnya pasukan air hujan. Seakan tak kompromi, seluruh wajahku terasa ngilu dengan sentilan-sentilan tajam dari pasukan air hujan yang menerjang. Sambil berucap do’a dalam hati, semoga ku benar-benar selamat sampai tujuan.

Tidak lama, sekitar 20menit akhirnya pasukan air hujan pun kembali ke langit, meninggalkan bumi yang kebasahan, menyiram semua yang kekeringan dan memberi pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Tapi kutetap saja, memilih untuk tidak melepaskan jubahku.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga diranah negeri kelahiranku. Ya, baru teringat karena ku harus mengunjungi seorang kawan lama untuk bersilaturahmi. Percaya atau tidak, di ranah itu ternyata tidak hujan sama sekali, mungkin ini yang namanya hujan lokal. Bertamu di rumah kawan, berbincang tentang segala hal, ditemani oleh gurauan dan canda anak-anaknya yang sedang lucu-lucunya sehingga tak terasa waktu ini begitu cepat berlalu, sudah larut malam rupanya. Akhirnya, ku pamitan sama kawanku. Malam benar-benar semakin larut, tinggal beberapa jam lagi waktu shubuh, kembali ku mengayuh sahabatku reva yang basah kuyup akibat hujan tadi. Angin malam seakan tidak memberi ampun padaku, dengan ketajamannya menikam setiap bagian tubuh ini. Baju zirah yang kukenakan serasa tidak berarti, perjalanan tinggal 2,5 kilometer lagi. Kecepatan sedang pun menjadi pilihanku. Singkat cerita, alhamdulillah ku benar-benar bersyukur akhirnya sampai juga digubuk-reot.

Beres menunaikan kewajiban sekaligus kebutuhan jiwa ini, selepas isya’ ku merebahkan diri di atas kasur yang tak lagi empuk. Seraya berdoa:

“Ya Alloh dengan namamu aku hidup dan dengan namamu pula aku mati.  Lindungilah diriku dan keluargaku dari siksa api neraka.
Dan janganlah Kau matikan kami, kecuali dalam keadaan islam dan khusnul khotimah.” Aamiin.

Selamat malam  reva, semoga kau dapat beristirahat dengan cukup malam ini.

Advertisements

2 thoughts on “pasukan air hujan dan dua raksasa

  1. Pingback: mendidihnya sahabatku | sedikit berbagi

  2. Pingback: enaknya KTP (E-KTP) « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s