sabana..oh..sabana(2)


sedikit berbagi, begitu berarti…

Sebuah perjalanan menelusuri kegusaran dan kegundahan hati menyambangi sabana.

Cerita gak jelas ini merupakan lanjutan dari sini, bagi yang belum paham silakan baca dulu bagian pertama.

sabana-1

illustrasi (gotsaga.com)

Akhirnya setelah malam kemarin kita berdua gagal menguak misteri sabana, yang notabene hanya mencari dalam radius 500 meter pada akhirnya malah mampir ke sop kaki kambing pak kumis yang tidak kumisan dengan perasaan yang campuraduk.

Petualangan hari keduapun dimulai, seperti biasa semua tanpa rencana, spontan dan tanpa ada rekayasa sedikitpun. Saat pulang ngantor, setelah matahari membenamkan diri di ufuk timur atau ba’da maghrib, kawanku ‘thor’ dengan perawakan tinggi sedang, besar, bermata empat, dibalut kulit yang sedikit gelap dan menaiki ‘petir’, membuat semua yang melihatnya akan langsung ciut, mendengar suara ‘petir’nya saja, dapat dikenali bahwa dia sudah datang. Tapi, jangan khawatir masih sama-sama makan nasi, dia sendiri ramah dan bertanggung jawab.

Kawanku menawari tiket perjalanan yang kedua untuk menyambangi daerah ‘sabana’. Memang, rasa penasaranku pun sampai saat ini masih kalut, mengingat kami memang belum berhasil dengan misi sabana tersebut. Dengan anggukan pasti, ku menjawab tawaran kawanku. Alhamdulillah, malam ini sedikit bersahabat daripada kemarin. Tidak ada gerombolan gerimis-gerimis yang menghadang, hanya tebasan anginlah yang menjadi tokoh antagonis kali ini, berulangkali ku harus menepis semua tebasan angin itu, masih dengan jubah hitam ku menapaki perjalanan yang kedua dan tetap duduk manis dibelakang kawanku yang memakai baju zirahnya yang lain, dengan helm dari baja tebasan-tebasan angin itu seakan tidak berpengaruh sedikitpun.

jungle at night

illustrasi (8pmdaily.com)

Arah pertama yang kami ambil adalah menuju utara, dimana tempat terminal buso berada. Untuk menghindari kawanan patroli dari ‘polipholi’ akhirnya kawanku memilih lewat belakang. Entahlah, belakang itu seperti apa. Jalan setapak yang kami lalui, tadinya cukup ramai, sampai tibalah di daerah yang menurutku lumayan indah tapi membuat bulu roma bergidik. Bererapa pohon cemara berdiri angguh di setiap pinggiran jalan, gelap, tidak ada cahaya sedikitpun hanya kilatan-kilatan ‘petir’ yang menerangi jalan kami. Sunyi sekali, padahal ada beberapa rumah penduduk, seperti tidak berpenghuni. Tampak sesekali beberapa pejalan, pengendara seperti mayat hidup, berjalan dengan tidak beraturan, melawan arah, pandangan yang tidak bersahabat. Malam yang tampak akan menghitam, pohon-pohon besar disekeliling jalan seakan terusik dengan kedatangan kami, tapi untungnya tidak ada suara gagak, cuma ada suara halus  yang keluar dari ‘knalpot’ sehingga horrornya tidak kentara.

Ku sendiri tidak bicara sedikitpun, sampai ketika keluar dari daerah itu, aku bertanya pada kawanku: “Tadi daerah apa namanya…?”. Lembah Bulusya Astari, jawab kawanku. Baru kali ini mendengarnya, hmm..akan kuingat nama itu (lirihku dalam hati). Kembali kita berdua menyusur bukit alfafa dan lembah indomarsen di daerah itu. Benar saja, ketika kita sampai di terminal buso, kawanku menunjuk sebuah tempat yang menjadi tujuan kami. Sabana, akhirnya.. (batinku keranjingan).

fatamorgana

illustrasi (davidsongalleries.com)

Tapi, kita berdua kaget bukan kepalang, seperti seorang yang ada di gurun pasir, lelah ia mencari air karena kehausan yang tidak main-main setelah melihat air dari kejauhan, ia lari dengan terburu untuk meraih air tersebut. Tapi si pengembara gurun pasir itupun, kecewa dengan sangat. Air yang ada di depannya hanyalah pasir-pasir biasa, rupanya hanya fatamorgana. Ilusi yang disebabkan oleh pengembara itu sendiri, sampai akhirnya dia terbenam oleh kerasnya hujaman gurun pasir dan mati.

Sabana yang ada didepan kamipun seperti fatamorgana, ada tetapi tidak ada. Sabana yang gersang tidak berpenghuni, jadilah kami pun pulang dengan hati yang hancur. Minimal aku jadi tahu, daerah sabana itu seperti apa. Pulang menyusuri jalan yang berbeda karena kutak mau kembali ke lembah bulusya astari lagi. Di perjalanan, dengan sedikit menggontaikan badan dan sedikit melamun, aku terbangun karena kawanku bertanya: “gmn, masih mau terus gk..?masih ada beberapa lembah sekitar ‘gunung laboo’ yang belum kita jamah” sambil menunjuk ke arah selatan, rasa semangatku pun sedikit-sedkit sudah terkumpul kembali. Dengan pasti ku jawab, “Okeh”. Melesatlah ‘petir’ dengan sisa-sisanya tenaganya.

Kawanku tahu, bahwa sudah saatnya si ‘petir’ mengisi ulang tenaga di spbu yang terdekat, alih-alih ikut antrian panjang di spbu, saat tiba giliran untuk mengisi ternyata  ‘premiusa’ sudah habis, yang tersedia hanya ‘pertamaxio’ notabene harganya bener-benar melambung diatas kantong seperti kami ini. Tidak jadilah petir untuk mengisi ulang tenaganya. Kami pun sedikit gusar meneruskan perjalanan ini. Kami menuju spbu lain, benar saja, belum kami tiba di spbu yang dituju, si petir sudah kehilangan kekuatannya, mogoklah ia. Dengan sedikit terpaksa, kita berdua ‘memapah’ petir ke spbu, setelah kepayahan sekitar 10menit, kami sampai di spbu,  dengan cekatan melesat secepat yang kita mampu, proses ‘memapah’ itupun akhirnya sukses. Si petir sudah bertenaga kembali.

sabana-mountain

illustrasi (ikiratours.com)

Petualangan ini kembali hidup, meniti kembali jalan arah selatan menuju lembah sekitar ‘gunung laboo’ pun menjadi tidak terasa. Kembali mata-mata ini menjadi awas ketika berada di lembah alfafa dan bukit indomarsen, kurang lebih 15 menit kita berkutat di daerah tersebut, tak urung jua membuahkan hasil. Sabana masih tidak keliatan walaupun cuma batang hidungnya saja, berhenti di salahsatu alun-alun gunung laboo, coba menerawang kembali frame-frame perjalanan yang tadi kita lewati. Akhirnya, kawanku menunjuk ke  sebuah lapak penjual yang ada disitu, ku baca tulisan di umbul-umbulnya “kane”. Ya sudahlah, daripada tidak ada hasil sama sekali, transaksi jual belipun terjadi.

Setelah transaksi itu, dengan berat dan masih menggantungnya rasa penasaran di benak hati. Kita memutuskan pulang untuk kembali ke istana masing-masing. Walaupun sampai saat ini belum berhasil menyibak tabir sabana.  Melepaskan kepenatan dan kepayahan sehabis petualangan ini rasanya sudah wajib dilakukan, mengistirahatkan raga dan batin. Selamat malam bulan, bintang…sabana ku tak kan menyerah.

Without hope life is meaningless
~author unknown~ 

Advertisements

2 thoughts on “sabana..oh..sabana(2)

  1. Pingback: dari teh manis hingga ke dubai | sedikit berbagi

  2. Pingback: banyak gaya | sedikit berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s