buruh dan mesjid


sedikit berbagi, begitu berarti…

reva0405

illustrasi (reva @nite)

Ba’da maghrib jum’at itu, kembali ku mengayuh sahabatku reva. Setelah sebelumnya dirinya melepas dahaga di spbu terdekat, blue soda itu nama minumannya. Beres ku packing semua peralatan tempur, akhirnya ku mulai meluncur.
Ada yang beda dengan perjalanan ini, dimana ku harus menjemput adikku di tempat kerjanya. Malam yang lumayan hangat oleh riuhnya beberapa bebek, kuda serta gajah-gajah kecil. Diwarnai beberapa kemacetan disana sini, menjadi salah satu potret ibukota. Jalan yang semakin sempit, jumlah kendaraan yang makin fantastik, semakin menambah peliknya pekerjaan rumah bagi sang penguasa dan para abdinya.
Perjalanan ini pun terkesan sangat lambat dan melelahkan, pasalnya ternyata bubaran para buruh pabrik menambah jumlah kerutan di dahiku dan bebek lain yang angkuh pun menyalip paksa dalam ruang sempit bayang sahabatku yang seketika membuyarkan konsentrasiku untuk bersikap arogan terhadap situasi seperti ini. “ssshhh…sing sabar le” lirihku dalam hati.

Beberapa kali melewati kawanan buruh pabrik yang sedang meluapkan kebebasannya setelah lebih dari 8 jam mereka bertarung dengan segenap mental yang ada, Ya…akhirnya mereka telah pulang juga (pikirku). Karenaku juga pernah merasakan hal yang sama dengan mereka, merasakan berpacu dalam tenggatnya waktu produksi yang sangat tidak wajar, tenaga diperas bagai kuda, di pecut tiada henti untuk terus melaju di lintasan. Hanya sesekali berhenti, sekedar untuk buang peluhnya keringat dalam tubuh. Diperparah dengan bayaran yang sekenanya, pengusaha sukses dengan hasil produksinya,  sedang kami sukses dengan kepayahan kami.

buruh-pabrik

illustrasi (republika.co.id)

Tapi, dibalik itu semua kami tetap bersyukur, hidup dengan keras, berjuang demi citra diri yang lebih baik. Berharap buruh-buruh sekarang lebih manusiawi, dimana hak-hak dan kewajiban benar seimbang dan adil terhadap kehidupan mereka. Apalagi  sudah merayakan May Day dengan rencana pemerintah untuk membangun rumah sakit khusus buruh di beberapa daerah kawasan industri. Mudah-mudahan cepat terealisasi.amiin

90 menit sudah berlalu, akhirnya aku sampai dikota kelahiranku. Sebelum menuju tempat adikku, aku memutuskan untuk mengunjungi mesjid yang sudah lama tidak kusinggahi. Mesjid lumayan megah bertemakan hijau dan berada di tengah-tengah perumahan cukup elit. Ternyata, kudapati bahwa mesjid itu telah terkunci dan tertutup rapat buat seseorang yang akan menjalankan kewajibannya di waktu isya yang sudah lewat.

green-mosque

illustrasi (turkishvoyage.com)

Ironis memang, mesjid yang merupakan tempat ibadah pun terkesan takut di satroni pencuri-pencuri kecil, apalagi jika mesjid terdapat di pinggir jalan yang ramai, biasanya sudah pasti setelah isya, sang marbot akan menguncinya. Atau kadang masih membiarkannya terbuka, tapi hanya diluar dan tempat wudhu saja, sedangkan pintu masuk ke dalam sudah tertutup rapat. Alih-alih, biar aman dari pencuri-pencuri kecil, sehingga para musafir seperti akupun merasa asing di rumah Tuhannya sendiri. Kadang aku juga heran sama pencuri-pencuri kecil itu, apakah orang itu beragama islam juga..?? apakah dia tidak tahu, bahwa dia melakukan kejahatan di rumahnya Alloh SWT sang pemilik alam semesta.

Yaah, mungkin memang seperti itu, hatinya sudah beku. Mudah-mudahan Alloh SWT selalu memberikan hidayah terutama pada pencuri-pencuri kecil seperti mereka. Setelah ku tidak bisa bersahaja dengan mesjid disitu, akhirnya ku putuskan kembali meneruskan perjalanan yang tinggal 1/4 lagi menuju tempat kerja adikku. Kembali ku bergelut dengan tajamnya angin malam yang menusuk sampai kulit. Menghirup penatnya udara kebisingan dan kemacetan, semakin membuatku kadang tak waras. Di lampu merah, ku menggeliatkan badanku yang terkuras oleh derasnya pegal yang menjalar. Setelah lampu merah, meluncur dengan pasti sambil sesekali ku melemparkan pandangan pada kanan kiri jalan, terlihat serasi lampu jalan yang temaram dengan berbaris pohon-phon hijau yang tinggi menjulang. Setengah jam sudah, akhirnya ku sampai di luar tempat kerja adikku. Smspun diluncurkan, seketika ada balasan dari adikku yang memberitahu bahwa dia pulangnya masih 30menit lagi.

reva0405-1

illustrasi (lalu-lalang bebek)

Mau tak mau, ya sudah ku tunggu saja. Sembari memperhatikan lalu-lalang bebek, kuda dan gajah lain yang melintas di depanku. Yang menunggu kulihat tidak hanya ku sendiri, cukup banyak bebek yang parkir di sekitar tempat itu, hanya sekedar untuk menjemput orang-orang yang terkasihnya. Salut untuk mereka.
Suasana malam semakin tak menentu, perutku pun gencar menuntut haknya.

Singkat cerita, aku membonceng adikku pulang, kami membeli makanan terlebih dahulu buat para penghuni gubuk-reot. Alhamdulillah, sampai dengan selamat di tempatku bernaung. Istirahat sejenak, bebersih dan bersuci ku menengahkan tangan seraya berdo’a di waktu isya. Malaam…reva, waktunya kini untuk istirahat dan menjamah mimpi-mimpi.

Advertisements

One thought on “buruh dan mesjid

  1. Pingback: jangan jadi ‘KEBO’ « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s