sahabatku, reva…


sedikit berbagi, begitu berarti…

Ba’da maghrib hari jum’at itu, aku mulai mengayuh bebek besi yang tidak lagi putih dengan segenap asa dan keyakinan untuk segera berlabuh di gubuk reot yang selama ini menjadi tempat ku bernaung. Gubuk reot itupun semakin reot, selintas terbayang begitu tegarnya kau berdiri, menopang dan melindungi keluargaku dari teriknya sang mentari, dingin dan pekatnya sang malam. “Yaah, sampai kapan kau mampu bertahan” (dalam hati kubergumam). Perjalanan itu diiringi oleh tetesan bulir air mata. Istighfar.

reva

sahabatku, reva...

Seperti biasa, perjalanan yang cukup menguras segenap fisik dan batin itu, ku beradu-pacu dengan bebek-bebek lain di jalanan, saling memberi ruang gerak antar keduanya. Bebek-bebek yang tidak pernah mengeluhkan sedikit pun, skalipun kelebihan muatan atau usang dimakan lapuknya usia. Bebek-bebek pun pasrah di pacu sedemikian kasar oleh para jokinya. Diinjak dengan dengusan nafsu yang memburu untuk ‘menghabisi’ bebek lain yang tidak berdaya. Sayangnya itu tidak membuatku terpengaruh, ku tetap saja mengayuh sahabat perjalananku dengan biasa saja, belajar dan tidak akan lelah untuk belajar menikmati perjalanan.

Bersamaan dengan keluarnya beberapa pekerja dan menumpuknya bebek, kuda serta gajah-gajah kecil ikut menambah semrawutnya jalanan. Perjalanan malam yang harusnya dingin, seolah-olah menjadi bahan bakar tungku yang pas untuk merebus mie instan. Namun cara merebus tiap orang beda-beda, ada yang dengan cacian, makian, suara serak bebek, kuda dan gajah kecil yang  tidak terkendali. Menjadi adrenalin tersendiri.

Lepas dari himpitan itu, konsentrasi yang sempat buyar aku kumpulkan kembali. “Andai kau dapat bicara bebek besiku..” (apakahku mendholimimu selama ini).
Melewati berbagai tikungan tajam, jalan yang berlubang, diteriaki oleh badak-badak tidak bercula, ku tidak mengendurkan semangat, semakin ku tersadar bahwa ku semakin jauh dari tempatku berpijak sebelumnya.

Saat itu, tidak ada hal-hal unik yang kujumpai sebagaimana biasanya. Lampu-lampu jalan yang temaram, bulan yang terus mengikutiku dan sisi gelapku yang terus bersandar pada bayang-bayang diri. Tidak lelah ku terus mengingat asma-Mu dalam setiap perjalananku dengan reva, sahabatku.

Setelah kurang lebih 2 jam, kau yang tidak pernah mengeluh sedikit pun berhasil membawaku ke tempat tujuan, gubuk reot. Terima kasih reva, sahabatku. Silakan beristirahat, setidaknya untuk malam ini.  

Advertisements

14 thoughts on “sahabatku, reva…

  1. Pingback: balada seledri | sedikit berbagi

  2. Pingback: tato kacang ijo | sedikit berbagi

  3. Pingback: malam minggu yang indah « senitea's blog

  4. Pingback: operasi kecil untuk reva « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s