kegalauan hati


sedikit berbagi, begitu berarti…

Khutbah jum’at kemarin, membahas tentang yang namanya kegalauan dan kegelisahan hati, saia lupa nama khotibnya tapi saia akan berusaha menuliskan dan ‘menambahkan’ sedikit tanpa mengurangi maksud dan tujuan yang ingin beliau sampaikan.

gelisah-hati

illustrasi (jurnalramadhan.blogspot.com)

Fenomena bunuh diri yang akhir-akhir ini sedikit marak di berbagai media, menjadi salahsatu latar belakang beliau dalam khutbah jum’at kemarin. Terlepas dari apapun itu sebabnya, bunuh diri bukanlah suatu solusi. Tingkat bunuh diri diperkotaan lebih tinggi dari yang ada dipedesaan. Mengapa…??kadang kebahagian lahiriah jarang berbanding lurus dengan kebahagian bathiniah.

Meski belum dapat dirinci adanya korelasi antara  meningkatnya bunuh diri dengan membengkaknya angka kemiskinan, tetapi himpitan ekonomi menjadi pemicu utama kasus bunuh diri di Indonesia.

Dalam banyak kasus, bunuh diri dilakukan karena dianggap tak ada jalan lain bagaimana membiayai keluarganya, menyekolahkan anak- anaknya.Ketimbang menyaksikan istri dan anaknya sengsara tiada tara, sementara jalan keluar bagaikan fatamorgana belaka karena sulit mewujudkannya, maka jalan pintas jadilah tumpuannya. (sumber: poskotanews)

Model ujian dari Alloh SWT ada 2 macam yaitu: kesusahan dan kesenangan (saia lupa surat dan ayat berapa yang jadi dasar). Disebutkan bahwa ternyata model ujian itu dimulai dengan kesusahan dulu baru kesenangan, hal inilah menjadi alasannya bahwa ada peribahasa berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Ada rumus dari beliau mengenai cara untuk mengatasi fenomena bunuh diri atau kejadian yang menimpa kita.

K + R = B , dimana:

K = Kejadian
R = Respons
B = Hasilnya dapat berupa Bahagia atapun Bencana

Jadi, sebenarnya apapun masalah yang menimpa manusia, bukanlah karena masalah itu sendiri, tapi karena  semua tergantung bagaimana cara dan sikap kita menghadapinya. Kalau ada kejadian, kita tetap berbaik sangka dan tetap istiqomah, insyaAlloh kita akan sabar menjalani segala kejadian/ujian dari Alloh SWT. Sebaliknya jika dalam menghadapi suatu kejadian, respons kita sendiri sudah negatif, dapat dipastikan bahwa hidup kita tidak akan tenang sama sekali, malah stress yang ada.

Kegalauan hati ada dua macam:

  1. Kekhawatiran atau ketakutan yang berlebihan, padahal kejadiannya itu belum ada sama sekali.
  2. Setelah kejadian ada, malah kesedihan yang berlebihan dilakukan.
berserah-diri

illustrasi (ukhistiqamah.blogspot.com)

Trus, bagaimana cara untuk mengatasi kegalauan hati atau kekhawatiran hati tersebut??. Menurut beliau setidaknya ada 4 macam usaha yang dapat kita lakukan, antara lain:

  1. Dzikrulloh, dengan mengingat Alloh SWT maka hati akan tenang.
    Kebetulan saia tidak mencatat  dasar Al-Qur’annya untuk yang ini. Kita hanya bisa berdo’a dan berikhtiar untuk selalu diberikan hidayah-Nya pada kita, semoga dalam keadaan apapun kita tetap mengingat Alloh SWT.
  2. Berserah diri kepada Alloh SWT.
    Hal ini dipertegas dalam firman-Nya surat Al-Baqoroh ayat 112:
    “…barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Alloh SWT, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  3.  Berbagi. (menurut saia mungkin dengan sodaqoh)
    Masih dalam surat Al-Baqoroh, ayat 274:
    “Orang-orang yang menafkahkan hartanya dimalam hari dan siang hari secara sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  4. Istiqomah.
    Dalam surat Al-Ahqaaf ayat 13 Alloh SWT berfirman:
    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kamu ialah Alloh”, kemudian mereka tetap beristiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” 

 Ada penutup yang saia ingat dari beliau:

orang bodoh kalah sama orang pintar
orang pintar  kalah sama orang licik
orang licik kalah sama orang beruntung

Biar jadi orang beruntung, kita harus selalu berbagi (sodaqoh) terhadap sesama. Mudah-mudahan Alloh SWT menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung. Amiin

Masjid Al-Adzkar
Lebak Bulus

Advertisements

4 thoughts on “kegalauan hati

  1. Pingback: pentingnya musyawarah « senitea's blog

  2. Pingback: ada orang baru nih « senitea's blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s