lilin dan mati lampu…


sedikit berbagi, begitu berarti…

mati listrik

illustrasi (ptsii.blogspot.com)

Sepulang kerja tadi malam, saia mendapati kawasan sekitar kontrakan ternyata mati lampu, alhasil gelap gulita deeh. Masuk ke kontrakan berukuran 2,5×1,5mtr kemudian dilanjutkan dengan menyimpan sahabat gembol terdekat, lalu saia pun mencoba mengingat-ingat apakah ada lilin di lemari, waah..ternyata cuma ada 2, itupun yang satu sudah pendek paling tahan cuma 15menit, yang satu lagi masih ada 1/4nya. Dengan asumsi bahwa mati lampu ini dikhawatirkan sampai pagi, akhirnya saia putuskan meluncur keluar kontrakan untuk membeli beberapa lilin (sekalian buat cadangan). Tujuan pertama saia yaitu sebuah warung yang berada sekitar 50 meter dari kontrakan.

saia: “Pak, lilinnya ada…?” ucap saia pada bapak  warung.
bapak warung: “waah, maaf mas…lilinnya sudah habis tadi..”
saia: “oohh..gitu pak, ya sudah gak apa-apa.. makasih pak.”
bapak warung: “iyaa…”

Warung pertama, saia gagal mendapatkan apa yang dibutuhkan. So, akhirnya saia pun berjalan kembali sekitar 100 meter dari warung pertama, ingat ada sebuah warung kecil  disitu. Akhirnya tiba diwarung kedua.

saia: “Mas, ada lilinnya..??”
mas warung: “Gak ada lilin’e…habis mas., coba ke warung di belokan sana ada kayanya”, sambil menunjuk arah ke warung yang pertama saia datangi.
saia: “warung yang disana ya mas, waah..saia tadi barusan dari situ..
yowish gak apa-apa mas, makasih yah..”
mas warung: “iyaa..sama2”

Saia pun meneruskan perjalanan kembali, sebuah misi untuk mendapatkan lilin. Ya, bukan sembarang lilin, tapi lilin yang rela leleh dan terbakar habis untuk sekedar menemani dan menerangi malam-malam saia (sedikit berlebihan sekali). Jadi teringat tentang kisah 4 buah lilin, yaitu lilin damai, iman, cinta dan harapan. Dengan langkah sedikit gontai, saia berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang mulai ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan yang pulang ngantor. Dalam hati, bertanya-tanya..lhoo, disini kok listriknya nyala sihh..jangan-jangan dalam perjalanan saia mencari lilin, memang sudah nyala lagi. Hadooh, akhirnya saia pun memutuskan kembali pulang melalui sebuah jalan pintas,  200 meter sudah dari warung kedua saia melewati sebuah warung ketiga, tidak lupa dengan misi yang sedang diemban, akhirnya…

saia: “Kang, lilinnya masih ada…?”tanya saia sedikit ragu.
kang warung: “Ohh..ada, mau beli berapa mas..”
saia: “alhamdulillah (dalam hati)…satunya berapa kang??
kang warung: “sebiru..lhoo (maksudnya seribu)..”
saia: “saia beli 4 aja mas..oia kok disini gak mati lampu ya mas..??
kang warung: “mungkin pemadaman listrik giliran, soalnya disini udah beberapa bulan yang lalu..”
saia: “wadduh..gitu yah..bakal sampe pagi sepertinya..?
kang warung: “biasa sih gitu..”
saia: “ohh..ya sudah makasih kang..”sambil menyodorkan dua lembar dua ribuan.
kang warung: “sama-sama..”

Perjalanan pun diteruskan dengan senyum sedikit mengembang. Sambil berjalan percaya diri walaupun bulir-bulir keringat halus mulai bercucuran karena harus berjalan kembali sekitar 150 meter lagi, akhirnya sampai juga dikontrakan dan ternyata intuisi saia salah, masih mati lampu..deegh.

Singkat cerita, setelah sampai kontrakan..lilin ajaib menjalankan perannya. Satu di kamar, satu diluar, yang pendek saia taruh di kamar mandi.

lilin

illustrasi (dikamar-mandi)

Suasana malam tadi sungguh damai sekali, sayup-sayup terdengar dari kamar sebelah suaranya Bryan Adam,

Baby you’re all that I want
When you’re lyin’ here in my arms
I’m findin’ it hard to believe
We’re in heaven

And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn’t too hard to see
We’re in heaven

Ada juga kejadian disaat saia sedang baca buku, “buu..acuuut, ocoong..” Ternyata suara polos anak kecil yang lewat depan kontrakan. Saia pun melesungkan senyum dalam hati, malam yang unik.

Hikmah yang saia dapat adalah, orang-orang semua pada berkumpul diluar, canda anak-anak yang berlari kian kemari, menambah suasana semakin ramai. Jarang sekali suasana seperti ini di tiap kontrakan, semua penghuni begitu diakrabkan oleh mati lampu, senda-gurau, obral-obrol pun semakin hangat oleh adanya makanan dan cemilan.

lilin-kecil

illustrasi (dikamar)

Hikmah mati lampu ini mengakrabkan dan mendekatkan kita satu sama lain. Tapi apakah baru ada musibah atau kejadian yang menimpa, kita baru dekat dengan orang lain, apakah hubungan kita menjadi hangat setelah adanya musibah. Ya, mudah-mudahan kita tidak termasuk yang seperti itu, seperti yang sudah saia singgung sedikit tentang silaturahmi, kita harus menjaganya.

Sekedar info, ternyata manusia pun sebenarnya sudah akrab dan dekat dengan kegelapan lhoo. Jadi, tidak usah takut akan gelap, 9 bulan kita berada dalam rahim sang bunda, apakah ada PLN disana??apakah ada yang jual lilin..??

Semoga Alloh menjadikan kita sebagai orang-orang yang pandai bersyukur. Amiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s